Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Jelang Muktamar NU, Tokoh-Tokoh Nahdliyin Serukan Pembenahan Organisasi

Iwa Ikhwanudin • Senin, 1 Juni 2026 | 18:54 WIB
Dialog Kebangsaan Kader NU yang digelar di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Sabtu (30/5/2026). (Nanang Febriyanto/Radar Jogja)
Dialog Kebangsaan Kader NU yang digelar di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Sabtu (30/5/2026). (Nanang Febriyanto/Radar Jogja)

 SLEMAN - Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), suara-suara pembenahan organisasi mulai menguat dari kalangan kader dan tokoh nahdliyin.

Mereka mengingatkan bahwa NU tidak boleh larut dalam dinamika internal, yang berpotensi menggerus kepercayaan warga. 

Terlebih di tengah berbagai persoalan kebangsaan yang membutuhkan kehadiran organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.

Gagasan mengemuka dalam Dialog Kebangsaan Kader NU yang digelar di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Sabtu (30/5/2026).

Puluhan kader NU dari berbagai daerah di Pulau Jawa hadir mengikuti forum yang membahas masa depan NU menjelang muktamar.

Pengasuh Ponpes Minggir KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq, mengingatkan posisi NU bagi Indonesia bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa. 

Menurutnya, NU selama ini menjadi salah satu penyangga utama kehidupan berbangsa dan bernegara.

“NU adalah jangkarnya Indonesia. Kalau jangkarnya goyah, kapal bisa kehilangan arah. Karena itu NU harus tetap kuat dan solid,” tegasnya.

Gus Muwafiq menilai Muktamar NU mendatang harus menjadi momentum konsolidasi besar untuk memperkuat organisasi sekaligus menjawab berbagai tantangan yang dihadapi warga nahdliyin di era perubahan yang semakin cepat.

Nada serupa disampaikan Ketua Aliansi Santri Gus Dur, Muhammad Sholihin. Ia mengingatkan pentingnya menjaga marwah kepemimpinan NU dengan kembali meneladani nilai-nilai yang diwariskan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), seperti demokrasi, keterbukaan, dan keberpihakan kepada kelompok lemah.

“NU besar karena tradisi keteladanan dan keberaniannya membela rakyat kecil. Nilai itu tidak boleh hilang,” ujarnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Baitul Hikmah Bantul, Aguk Irawan, menyoroti perlunya NU kembali tampil sebagai kekuatan civil society yang kritis terhadap berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan.

Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi banyak persoalan, mulai dari konflik agraria, kerusakan lingkungan, hingga ketimpangan sosial. Dalam situasi seperti itu, NU diharapkan hadir memberi pendampingan dan advokasi.

“NU harus kembali menjadi pembela kaum tertindas dan hadir di tengah persoalan rakyat,” kata Aguk.

Menariknya, dalam sesi diskusi juga mengemuka pembahasan mengenai figur yang dinilai mampu memimpin NU ke depan. 

Sejumlah narasumber menyebut nama Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin sebagai salah satu sosok yang dianggap memiliki pengalaman organisasi dan kapasitas kepemimpinan yang memadai untuk menghadapi tantangan NU ke depan.

Dialog ditutup dengan seruan agar Muktamar NU tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang evaluasi, rekonsiliasi, dan peneguhan kembali peran NU sebagai penjaga moral bangsa.

Di tengah dinamika politik dan sosial yang terus bergerak, para peserta sepakat bahwa NU harus kembali meneguhkan diri sebagai rumah besar umat, sekaligus jangkar yang menjaga Indonesia tetap berada di jalur kebangsaan. (naf)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Organisasi kemasyarakatan #Muktamar NU #Ponpes Minggir #nahdlatul ulama #Gus Muwafik