Yogyakarta – Aksi kecil namun viral terjadi di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sejumlah orang yang mengaku mahasiswa menggelar demonstrasi damai menuntut mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM Tiyo Ardianto berhenti menggunakan nama almamater dalam berbagai aktivitas politiknya.
Spanduk bertuliskan “Tiyo Jangan Bawa Nama UGM” dan “UGM untuk Ilmu, Bukan Provokasi” menjadi sorotan utama.
Video aksi yang diunggah akun X @Hilmi28 (Ustadz Hilmi Firdausi) langsung menjadi perbincangan hangat.
Dalam unggahannya, Hilmi menyindir aksi tersebut dengan caption:
“Mahasiswa mendemo Mahasiswa... mana malu-malu lagi . Duh... mahasiswa yang pernah demo beneran pasti malu melihat ini ”.
Aksi yang berlangsung di sekitar area UGM ini menampilkan puluhan peserta yang membawa spanduk cetak berwarna.
Mereka menegaskan bahwa Tiyo Ardianto, yang sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua BEM UGM periode 2025, tidak berhak lagi menggunakan nama dan representasi mahasiswa UGM untuk kepentingan pribadi atau aktivisme politik di berbagai daerah.
Unggahan Hilmi Firdausi memicu beragam komentar.
Banyak netizen mempertanyakan keaslian demonstran, dengan tudingan “mahasiswa bayaran” atau “mahasewa” karena sikap peserta yang terlihat kurang energik dan canggung di depan kamera.
Sebaliknya, sebagian lain mendukung aksi tersebut sebagai bentuk koreksi internal civitas akademika UGM agar reputasi kampus tidak dicatut untuk kepentingan politik praktis.
Salah satu pernyataan dalam aksi menyebut:
“Suara mahasiswa tidak bisa dicatut untuk popularitas pribadi.”
Mereka juga menekankan bahwa UGM berdiri untuk ilmu pengetahuan dan bukan panggung provokasi.
Tiyo Ardianto dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang vokal, terutama saat menjabat Ketua BEM UGM.
Ia sering mengkritik berbagai kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan aktif dalam berbagai diskusi publik meski masa jabatannya telah berakhir.
Aksi ini mencerminkan dinamika terkait legitimasi penggunaan nama BEM UGM pasca masa jabatan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari Tiyo Ardianto maupun pihak BEM UGM periode saat ini.
Radar Jogja akan terus meng-update perkembangan isu ini.Bagaimana pendapat Anda? Apakah mantan pengurus organisasi kampus masih boleh menggunakan nama almamater untuk aktivisme? Tulis komentar Anda di bawah.RadarJogja.jawapos.com – Memberitakan Jogja dengan Akurat dan Terpercaya
Editor : Iwa Ikhwanudin