RADAR MALIOBORO – Hari ini menandai tepat 232 tahun sejak eksekusi Marie Antoinette, sosok ratu terakhir Prancis terakhir sebelum Revolusi Perancis. Marie Antoinette dipenggal di tengah amarah rakyat dan kekacauan politik pada 16 Oktober 1793, di Place de la Révolution (kini Place de la Concorde).
Lalu, apa sebenarnya yang membuat sosok ratu ini dipenggal?
Marie Antoinette lahir pada 2 November 1755 di Wina, Austria, sebagai putri ke-11 dari Kaisar Romawi Suci Francis i dan Maria Theresa dari Austria. Hal ini menjadikannya seorang Archduchess Austria.
Baca Juga: Bella Hadid Comeback di Victoria’s Secret Fashion Show 2025 Meski Baru Pulih dari Sakit
Sejak kecil, hidupnya sudah diatur oleh aliansi politik antara kerajaan Eropa. Pada usia muda, dia dijodohkan dengan penerus takhta Prancis sebagai bagian dari strategi diplomatik.
Pada Mei 1770, ketika usianya 14 tahun, ia menikah dengan Louis-Auguste, cucu Raja Prancis Louis XV, yang kemudian menjadi Raja Louis XVI.
Ketika Louis XVI naik takhta tahun 1744, Marie Antoinette menjadi Ratu Prancis atau Queen Consort.
Baca Juga: Stop Abaikan Daun Alpukat! Lima Manfaat Populer Daun Alpukat
Louis XVI dikenal dengan sifatnya yang cenderung pemalu dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Hal itulah yang membuat Marie Antoinette terdorong untuk mengambil tindakan dan menjadi figur politik yang lebih aktif.
Namun, beberapa sumber mengatakan bahwa ketertarikan Marie terhadap politik ini hanyalah sebagai cara untuk mengamankan keuntungan bagi ia dan lingkaran pertemanannya. Pengaruh politiknya disebut tidak pernah melampaui pengaruh yang sebelumnya dimiliki oleh para selir raja Louis XV.
Baca Juga: Ini Dia Beberapa Jenis Olahraga Yang Cocok Dilakukan Untuk Memperbaiki Postur Tubuh Dengan Baik
Sebagai seorang ratu, Marie Antoinette mendapat sorotan publik yang sangat tinggi. Ia dikenal karena gaya hidupnya yang mewah. Salah satu skandal yang terkenal adalah Skandal Kalung Berlian atau Affaire du Collier de la Reine pada 1784-1785, yang sering dikaitkan dengan tuduhan perselingkuhan.
Skandal tersebut terjadi ketika seorang penipu bernama Jeanne de la Motte memalsukan surat dan membuat seolah-olah Marie Antoinette membeli kalung mahal lewat Kardinal de Rohan. Tetapi, sang ratu sama sekali tidak tahu soal transaksi itu. Hal ini membuat publik percaya bahwa Marie Antoinette berselingkuh dengan kardinal dan reputasinya semakin hancur karena gaya hidupnya yang mewah.
Baca Juga: Culture Shock Lucu Pasangan Beda Negara, Jule dan Daehoon
Salah satu propaganda antimonarki yang menyebar luas saat itu adalah kalimat, “Qu’ils mangent de la brioche!” atau “Let them eat cake!” yang merupakan simbol dari ketidakpedulian sang ratu kepada rakyatnya. Meskipun sejarawan menyebut kalimat ini tidak pernah secara langsung dikatakan oleh Marie Antoinette, hal ini menggambarkan Marie sebagai sosok yang sombong dan tidak berempati terhadap penderitaan rakyat.
“Let them eat cake!” tertulis dalam karya Jean-Jacques Roseau sebelum masa pemerintahan sang ratu dan baru kemudian dikaitkan dengan propaganda antimonarki.
Baca Juga: Potret Keluarga Harmonis Jule Daehoon Tiga Anak Jadi Sorotan, Kini Diterpa Isu Tak Sedap
Revolusi Prancis kemudian meletus pada 1789. Prancis dilanda krisis keuangan, ketidakpuasan rakyat terhadap pajak, serta tuntutan reformasi yang memperparah konflik antara monarki dan rakyat.
Keluarga kerajaan dipaksa meninggalkan Versailles dan tinggal di bawah pengawasan di Istana Tuileries, Paris.
Baca Juga: Tragedi Misterius di Kaligesing: Antara Keterasingan dan Kearifan Lokal
Kemudian, karena ketidaktegasan Louis XVI, Marie Antoinette mengambil alih peran memimpin rencana rahasia untuk membebaskan keluarga kerajaan dari penahanan di Paris. Ia sempat menghubungi politisi reformis (Mirabeau), tetapi akhirnya ia merencanakan pelarian ke perbatasan dengan bantuan bangsawan luar dan loyalis. Sayangnya, upaya pelarian mereka pada Juni 1791 gagal total setelah mereka ditangkap di Varennes dan dibawa kembali ke Paris.
Marie Antoinette tidak pernah setuju dengan peran raja yang dibatasi oleh konstitusi. Karena itu, ia diam-diam bersekongkol dengan pihak asing (Austria) untuk menggulingkan Revolusi. Perbuatannya ini memperkuat kebencian rakyat, yang memuncak pada penyerbuan Istana Tuileries dan penggulingan monarki pada 10 Agustus 1792.
Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, Suhu Capai 37°C, Angin Melemah
Setelah monarki digulingkan, Marie Antoinette menghabiskan sisa hidupnya di penjara Paris dan dipaksa menyaksikan kematian tragis sahabatnya, Princesse de Lamballe, yang dipenggal dan kepalanya diarak oleh massa. Pada Januari 1793, suaminya, Louis XVI, dieksekusi atas perintah Majelis Nasional Revolusioner.
Menjelang eksekusinya, Marie Antoinette ditempatkan dalam sel isolasi di penjara Conciergerie. Pada Oktober 1793, ia dihadapkan ke Pengadilan Revolusioner atas tuduhan pengkhianatan, kerjasama dengan kekuatan asing, dan penyalahgunaan keuangan negara. Dua hari kemudian, pada 16 Oktober 1793, di usianya yang ke-37 tahun, Marie Antoinette dieksekusi dengan guillotine, alat eksekusi yang terdiri dari dua tiang tegak dan pisau bermata miring yang digunakan untuk memenggal kepala dengan cepat.
Baca Juga: Tragedi Sunyi di Tanjakan Bunder Gunungkidul: Perjalanan Pulang yang Tak Pernah Sampai
Hingga kini, Marie Antoinette tetap menjadi figur yang sangat kontroversial dalam sejarah. Bagi sejumlah orang, ia menjadi simbol keangkuhan monarki dan ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat. Namun, banyak sejarawan modern yang menekankan bahwa banyak skandal yang dilimpahkan kepada Marie Antoinette sejatinya merupakan refleksi dari masalah struktural ekonomi dan kelemahan sistem pemerintahan Prancis pada masa itu.
Kisah Marie Antoinette banyak diangkat dalam berbagai film, serial televisi, dan drama berlatar sejarah. Salah satunya adalah film berjudul Marie Antoinette (2006) garapan Sofia Coppola yang menyoroti sisi pribadi sang ratu di balik kemewahan istana dan gejolak politik Prancis.
(Maulina)