RADAR MALIOBORO – Alun-Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta, dengan suasana magis dan tradisi uniknya, selalu menarik perhatian wisatawan dan masyarakat lokal. Salah satu daya tarik utama tempat ini adalah keberadaan dua pohon beringin kembar yang berdiri kokoh di tengah lapangan. Keberadaan pohon beringin kembar di Alun-Alun Kidul tidak lepas dari sejarah panjang Keraton Yogyakarta. Menurut berbagai sumber dan cerita yang beredar di masyarakat, pohon beringin ini ditanam pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Keraton Yogyakarta, sekitar abad ke-18.
Terdapat beberapa versi cerita mengenai tujuan penanaman pohon beringin kembar di Alun-Alun Kidul. Pertama, pohon beringin kembar ini dipercaya sebagai penanda atau patok batas wilayah Keraton Yogyakarta, di mana Alun-Alun Kidul pada masa lalu berfungsi sebagai halaman belakang Keraton, tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan dan upacara adat. Selain itu, dalam filosofi Jawa, beringin melambangkan pengayoman, perlindungan, dan keseimbangan; penanaman dua pohon beringin kembar dapat diartikan sebagai simbol keseimbangan antara duniawi dan spiritual, serta keseimbangan antara kekuasaan dan kesejahteraan rakyat. Konon, Sultan Hamengkubuwono I juga sering menggunakan area di sekitar pohon beringin kembar sebagai tempat untuk bersemedi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Selain nilai sejarah dan filosofisnya, pohon beringin kembar juga menjadi daya tarik wisata yang ikonik di Alun-Alun Kidul. Banyak wisatawan yang datang untuk berfoto di depan pohon beringin kembar, mencoba tradisi "Masangin," atau sekadar menikmati suasana Alun-Alun Kidul yang khas. Keberadaan pohon beringin kembar ini semakin memperkuat identitas Alun-Alun Kidul sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang wajib dikunjungi di Yogyakarta.
Pemerintah Kota Yogyakarta dan pihak Keraton Yogyakarta terus berupaya untuk melestarikan dan merawat pohon beringin kembar ini. Perawatan rutin dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keindahan pohon, serta mencegah kerusakan akibat faktor alam maupun ulah manusia. Dengan pelestarian yang baik, diharapkan pohon beringin kembar ini dapat terus menjadi saksi bisu sejarah dan budaya Yogyakarta, serta menjadi daya tarik wisata yang tak lekang oleh waktu.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin