Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Inilah Sejarah Busana Adat Jawa Basahan Dan Paes Ageng

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:12 WIB
Busana adat jawa dan paes ageng (Pinterest)
Busana adat jawa dan paes ageng (Pinterest)

RADAR MALIOBORO - Busana adat Jawa Basahan merupakan salah satu warisan budaya keraton yang kaya akan nilai filosofi dan sejarah dari Kerajaan Mataram dan penerusnya seperti Kasunanan Surakarta. Basahan adalah pakaian tradisional yang pada masa lampau hanya dipakai oleh kalangan bangsawan atau keluarga keraton, khususnya dalam upacara pernikahan adat Jawa. Busana ini mengandung simbol kemewahan dan keluhuran, tercermin dari penggunaannya yang sederhana namun penuh makna. Pada pria, busana Basahan terdiri dari dodot sebagai bawahan yang membungkus badan bagian bawah tanpa mengenakan atasan, melambangkan kesederhanaan dan kejantanan, sementara penggunaan aksesori seperti keris dan kalung berfungsi sebagai lambang kekuasaan dan perlindungan. Sedangkan pada perempuan, busana Basahan terdiri dari dodot dan kemben, disertai dengan hiasan rambut konde yang rapi dan bunga-bunga sebagai simbol kecantikan, kesucian, dan kerendahan hati yang mencerminkan nilai-nilai luhur perempuan Jawa dalam tradisi keraton.

Tata rias dan busana Paes Ageng adalah unsur penting lain dalam budaya Jawa yang berasal dari tradisi keraton Yogyakarta dan Solo. Paes Ageng merupakan jenis riasan pengantin wanita yang mengandung makna spiritual dan estetika tinggi, hanya digunakan dalam upacara pernikahan dengan tradisi keraton. Dalam prosesi periasan Paes Ageng, pengantin wanita dan perias biasanya menjalani ritual puasa sebagai bentuk penyucian diri dan penguatan batin, sehingga hasil riasan dipercaya memberikan pancaran kecantikan dan aura yang mempesona sekaligus mencerminkan kedewasaan dan kesiapan menghadapi kehidupan rumah tangga. Garis-garis dan simbol pada paes yang dibuat di dahi dan sekitar wajah bukan sekadar hiasan, melainkan juga mengandung makna filosofi agar pengantin dapat membedakan mana yang baik dan buruk dalam perjalanan hidupnya. Paes Ageng tidak hanya menjadi identitas estetika tetapi juga sarana komunikasi nilai-nilai keraton yang kuat dan sakral.

Secara historis, penggunaan busana Basahan dan tata rias Paes Ageng sangat terkait dengan posisi sosial dan spiritual dalam masyarakat Jawa pada masa kerajaan. Basahan mencerminkan status sosial bangsawan dan keluhuran budaya Jawa yang diwariskan turun-temurun melalui ritual dan adat istiadat pernikahan kerajaan. Sedangkan Paes Ageng merupakan simbol kedewasaan dan kecantikan jiwa raga pengantin wanita yang sudah melewati proses penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan budaya. Busana adat ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga sebagai representasi filosofis yang mendalam terkait norma, moralitas, dan harapan masyarakat Jawa terhadap kehidupan berkeluarga dan keberlangsungan tradisi keraton. Meski awalnya eksklusif untuk kalangan keraton, kini busana adat ini telah mengalami adaptasi dan diterima oleh masyarakat umum sebagai bagian penting dari pelestarian budaya Jawa.

Perkembangan masa kini menunjukkan bahwa busana Basahan dan Paes Ageng tetap menjadi simbol estetika utama dalam upacara pernikahan adat Jawa, baik dalam konteks tradisional maupun modern. Penggunaan busana ini dalam acara pernikahan tidak hanya menjadi penanda status dan identitas budaya, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi keraton. Pelestarian busana adat ini semakin mendapat perhatian dan apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk generasi muda yang mulai memahami pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak punah. Dengan demikian, busana Basahan dan Paes Ageng tetap hidup dan berkembang sebagai bagian integral dari kebudayaan Jawa yang kaya, menjadi saksi akan kejayaan dan filosofi kehidupan masyarakat Jawa sepanjang sejarahnya.

(Adessia Miftahullatifah)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Ageng #pakaian #paes #sejarah