Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Asal Usul Tradisi Sekaten: Harmoni Islam dan Budaya Jawa yang Terjaga di Yogyakarta

Magang Radar Malioboro • Selasa, 11 November 2025 - 17:42 WIB
Warga berebut gunungan pada puncak Grebeg Maulud Sekaten.
Warga berebut gunungan pada puncak Grebeg Maulud Sekaten.

RADAR MALIOBORO - Setiap bulan Mulud dalam penanggalan Jawa, halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta selalu dipenuhi masyarakat yang datang untuk menyaksikan tradisi sakral dan meriah Sekaten.

Tradisi tahunan ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai religius dan filosofis mendalam, menjadi penanda perpaduan antara ajaran Islam dan kebudayaan Jawa.

Perayaan Sekaten digelar oleh dua keraton besar di Jawa, yakni Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Rangkaian acaranya berlangsung mulai tanggal 5 hingga 12 Mulud dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan bulan Rabiulawal dalam kalender Hijriah, sebagai bentuk penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam tradisinya, terdapat beberapa rangkaian acara penting.

Di antaranya, penabuhan gamelan pusaka di halaman Masjid Agung, pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW, serta pengajian di serambi masjid.

Puncak perayaan ditandai dengan Grebeg Maulud, ketika pihak keraton mengeluarkan sejumlah gunungan berisi hasil bumi untuk diperebutkan masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan berbagi berkah.

Lebih dari sekadar upacara adat, Sekaten menjadi laku budaya-religius yang menggambarkan harmoni antara kosmos Jawa dan spiritualitas Islam.

Denting gamelan pusaka yang mengalun lembut dianggap merepresentasikan keseimbangan jagad raya, sementara bacaan riwayat Nabi menjadi pengingat nilai-nilai etika dan spiritual.

Adapun gunungan yang diperebutkan dalam Grebeg Maulud melambangkan konsep manunggaling kawula Gusti, penyatuan manusia dengan Tuhan melalui rasa syukur kolektif atas rezeki yang diterima.

Dalam pandangan filosofi Jawa, Sekaten berfungsi sebagai “tetenger” atau penanda bahwa Islam telah mengakar kuat di tanah Jawa tanpa menghapus tradisi leluhur.

Ia menjadi ruang perjumpaan antara dakwah, budaya, dan kerakyatan, tempat istana dan rakyat bersatu dalam penghormatan kepada Yang Maha Esa.

Asal-usul dan Etimologi

Nama “Sekaten” diyakini berasal dari kata Arab syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat, simbol pengakuan keimanan dalam Islam.

Namun, istilah ini juga sering dikaitkan dengan berbagai makna lain dalam tradisi Jawa, seperti Sahutain (menghindari dua hal buruk: maksiat dan penyimpangan), Sakhotain (menghapus sifat hewani dan setan), serta Sekati (menimbang antara kebaikan dan keburukan).

Kesemuanya mencerminkan ajaran moral dan spiritual yang terkandung dalam nilai-nilai Sekaten.

Jejak Sejarah

Menurut GPH Puger, salah satu sentana dalem Kesunanan Surakarta, tradisi Sekaten telah ada sejak masa Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

Kala itu, Wali Sanga memperkenalkan Sekaten sebagai sarana dakwah.

Gamelan dimainkan di halaman Masjid Agung Demak pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW agar masyarakat datang berduyun-duyun, tidak hanya untuk menikmati alunan musik, tetapi juga mendengarkan khutbah dan ajaran Islam.

Beberapa peneliti meyakini bahwa bentuk arak-arakan seperti Sekaten bahkan telah ada sejak masa Kerajaan Majapahit.

Kesultanan Demak kemudian melanjutkan tradisi tersebut sebagai bentuk kesinambungan budaya, sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pendekatan yang selaras dengan jiwa masyarakat Jawa.

Kini, ratusan tahun berselang, Sekaten di Yogyakarta tetap lestari sebagai simbol akulturasi yang harmonis antara Islam dan tradisi Jawa.

Dentingan gamelan, aroma bunga sesaji, hingga hiruk-pikuk masyarakat yang menanti Grebeg Maulud menjadi bukti bahwa nilai spiritual dan budaya dapat berjalan seiring, meneguhkan identitas Jawa yang religius dan berbudaya. (Retno Anggi Kusuma Dewi)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#yogyakarta #budaya jawa #Harmoni Islam #perayaan sekaten #Tradisi Sekaten #asal usul