Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Candi Gebang, Situs Candi Kecil di Sleman yang Sering Terlewatkan

Magang Radar Malioboro • Selasa, 27 Januari 2026 - 14:09 WIB
Ilustrasi Candi Gebang. (Dilansir dari Radar Jogja)
Ilustrasi Candi Gebang. (Dilansir dari Radar Jogja)

RADAR MALIOBORO - Nama Gebang mungkin sudah tidak asing bagi sebagian warga Sleman. Bahkan, nama ini digunakan sebagai penanda jalan di beberapa kawasan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Gebang sebenarnya merujuk pada sebuah candi bersejarah yang berada di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi Gebang berdiri di kasawan yang relatif tenang, tepatnya di sebelah barat laut Perumahan Gebang Permai. Letaknya yang berada di tengah hamparan persawahan dengan ketinggian sekitar 179 meter di atas permukaan laut membuat suasana di sekitar candi terasa sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Jejak pemujaan terhadap Dewa Siwa
Mengutip dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Candi Gebang diyakini sebagai bangunan pemujaan bercorak Siwaistis. Hal ini dapat dilihat dari temuan arca dan elemen pemujaan yang berkaitan dengan Dewa Siwa, seperti arca Ganesha, Nandiswara, serta dua buah Yoni.

Arca-arca tersebut berada di ruang utama candi dan pada bagian dinding barat, tepat di bawah arca Ganesha. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Candi Gebang memiliki fungsi religius yang erat kaitannya dengan pemujaan Siwa.

Keberadaan Candi Gebang mulai terungkap pada 1936, saat ditemukannya bagian arca Ganesha. Dari penemuan awal tersebut, penelitian dan penggalian kemudian dilakukan hingga akhirnya proses pemugaran dimulai.

Pemugaran candi dilakukan oleh Van Romondt dalam rentang waktu 1937 hingga 1939. Sejak saat itu, bentuk Candi Gebang mulai terlihat lebih utuh dan dapat dikenali sebagai bangunan candi Hindu.

Candi Gebang hanya memiliki satu bangunan utama yang menghadap ke arah timur. Denah bangunannya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sekitar 5,25 x 5,25 meter dan tinggi kurang lebih delapan meter.

Pintu masuk candi terletak cukup tinggi dari permukaan tanah. Menariknya, hingga kini tidak ditemukan sisa tangga batu sebagai akses masuk ke dalam candi. Diduga, tangga tersebut dahulu terbuat dari bahan non-permanen seperti kayu atau bambu, sehingga tidak bertahan hingga sekarang.


Ciri arsitektur klasik tua
Dari segi gaya bangunan, Candi Gebang termasuk dalam kategori arsitektur klasik tua. Hal ini terlihat dari bentuk bangunan yang relatif gemuk serta pahatan arca yang bergaya naturalis.

Pada bagian atas pintu masuk terdapat hiasan kepala kala tanpa rahang bawah, yang menjadi salah satu ciri khas seni bangunan candi pada masa klasik awal. Di dalam tubuh candi terdapat satu bilik yang di dalamnya ditemukan Yoni sebagai lapik, dengan lingga yang dahulu berdiri di atasnya.

Di sisi kanan dan kiri pintu masuk terdapat relung yang sebelumnya diisi arca Nandiswara. Namun, saat ini arca tersebut sudah tidak berada di tempatnya. Relung di sisi utara dan selatan yang biasanya diisi arca Mahakala juga ditemukan dalam kondisi kosong.

Salah satu daya tarik Candi Gebang terletak pada bagian dinding barat. Di sisi ini terdapat relung yang berisi arca Ganesha, dengan Yoni dan cerat yang mengarah ke utara di bagian bawahnya.

Susunan seperti ini tergolong langka dan jarang dijumpai pada bangunan candi lain di Indonesia.
Keunikan tersebut menjadikan Candi Gebang memiliki nilai arkeologis yang cukup penting, meski ukurannya relatif kecil dibandingkan candi-candi besar lainnya di Yogyakarta.

Saat ini, Candi Gebang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Kabupaten/Kota. Penetapan ini dilakukan melalui Surat Keputusan Penetapan nomor 14.7/Kep.KDH/A/2017 tertanggal 16 Februari 2017.

Dengan status tersebut, Candi Gebang menjadi salah satu situs bersejarah yang dilindungi dan patut dijaga keberadaannya sebagai bagian dari warisan budaya di Sleman dan Yogyakarta.
(Aribah Zalfa Nur Aini)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Candi Gebang #situs candi #sleman