RADAR MALIOBORO - Tugu Jam di sekitar kawasan Malioboro adalah salah satu jejak sejarah yang sering tidak disadari keberadaannya oleh banyak orang.
Di balik bentuknya yang sederhana, tugu ini menjadi saksi bisu perjalanan Kota Jogja, terutama pada masa kolonial Belanda.
Masyarakat menyebut bangunan ini sebagai Tugu Ngejaman, sebutan yang muncul karena fungsinya sebagai penunjuk waktu bagi warga sekitar.
Di masa kolonial, masyarakat menyebutnya “Stadsklok” atau “Jam Kota”, yang menandakan bahwa bangunan ini menjadi pusat pengaturan waktu di tengah keramaian Yogyakarta.
Tugu Ngejaman terletak di Jalan Marga Mulya, tepat di depan GPIB Marga Mulya Yogyakarta, Kecamatan Gondomanan.
Bentuk bangunan ini cukup sederhana, dengan alas persegi setinggi sekitar 1,5 meter dan di bagian atasnya terdapat sebuah jam berbentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih 45 sentimeter.
Ketika pertama kali beroperasi, jam tersebut menggunakan sistem pegas yang perlu diputar manual oleh masyarakat atau petugas agar waktu yang ditunjukkan tetap berjalan dengan benar.
Pada tahun 1916, pemerintah kolonial Belanda memberikan Tugu Ngejaman sebagai hadiah dalam rangka memperingati seratus tahun kembalinya kekuasaan Belanda atas Jawa setelah berakhirnya masa pendudukan Inggris.
Maka dari itu, tugu ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga mengandung makna politik yang kuat pada masa kolonial.
Keberadaannya mencerminkan modernitas yang dihadirkan Belanda serta menunjukkan bagaimana mereka turut mengatur ruang dan kehidupan sosial masyarakat.
Dalam aspek sosial, Tugu Ngejaman menjadi bukti perjalanan kawasan tersebut hingga berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan kebudayaan.
Meski sekarang tidak lagi berfungsi seperti dulu, tugu ini tetap melekat sebagai bagian penting dalam memori bersama masyarakat Yogyakarta.
Tugu Ngejaman mengingatkan bahwa setiap sudut Malioboro bukan hanya tempat wisata, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang membentuk wajah kota hingga hari ini. (Desfina Citra)
Editor : Meitika Candra Lantiva