RADAR MALIOBORO - Tanggal 25 Juni menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia untuk mengenang hari lahir Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang akrab disapa BJ Habibie. Lahir di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936, sosok yang dijuluki Bapak Teknologi Indonesia ini mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai Presiden Republik Indonesia pertama yang berasal dari luar Pulau Jawa.
Ketertarikan Habibie terhadap dunia teknik sudah terlihat sejak usia muda. Setelah sempat menempuh pendidikan di Indonesia, ia memutuskan untuk melanjutkan studi teknik penerbangan di RWTH Aachen University, Jerman.
Di kampus tersebut, ia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan, menjadikannya salah satu insinyur Indonesia yang diakui di kancah internasional. Kariernya pun berkembang pesat di industri dirgantara Eropa.
Namun, kecintaannya yang mendalam pada tanah air membuatnya memilih pulang ke Indonesia demi membangun sektor teknologi nasional. Sekembalinya ke Indonesia, Habibie dipercaya menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) selama dua dekade.
Baca Juga: Hari Pelaut Sedunia 2026 Soroti Risiko dan Tekanan Kerja Demi Jaga Stabilitas Ekonomi Dunia
Di bawah kepemimpinannya, industri strategis nasional mengalami kemajuan pesat. Ia memelopori lahirnya berbagai perusahaan strategis yang menjadi simbol kemandirian bangsa, mulai dari sektor perkapalan, pertahanan, hingga industri pesawat terbang nasional.
Di dunia internasional, ia dikenal luas berkat kecerdasannya yang melahirkan Crack Progression Theory atau Teori Habibie. Teori ini mampu menghitung lokasi dan besarnya titik awal retakan pada struktur pesawat secara akurat, sebuah inovasi besar dalam keselamatan penerbangan dunia.
Perjalanan karier Habibie mencapai titik penting pada tahun 1998. Setelah sempat menjabat sebagai Wakil Presiden, ia kemudian dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3 di tengah situasi krisis ekonomi dan transisi politik Orde Baru yang sangat berat.
Meski masa jabatannya relatif singkat, Habibie memiliki peran besar dalam membuka era reformasi dan demokratisasi. Di bidang ekonomi, ia berhasil membantu memulihkan kepercayaan terhadap perekonomian nasional yang sempat terpuruk akibat krisis moneter Asia.
Sementara di bidang politik, pemerintahannya membuka ruang kebebasan pers dan mengesahkan tiga undang-undang penting yang menjadi fondasi demokrasi modern, yaitu sebagai berikut.
• Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik
• Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum
• Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan Kedudukan MPR/DPR
Ketiga regulasi ini menjadi tonggak awal sistem politik yang lebih transparan sekaligus membuka jalan bagi terlaksananya Pemilu 1999 yang demokratis.
BJ Habibie wafat pada 11 September 2019 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta. Walau raga sang ilmuwan telah tiada, nama Habibie tetap identik dengan semangat inovasi, pendidikan, dan kemajuan bangsa.
Warisan terbesarnya berupa pemikiran bahwa bangsa Indonesia mampu bersaing di dunia internasional melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi muda hingga hari ini. (Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin