JAKARTA – Pertanyaan tentang boleh atau tidaknya orang Sunda menikah dengan orang Jawa masih sesekali muncul di tengah masyarakat. Bagi sebagian keluarga, pernikahan lintas suku itu bahkan dipercaya dapat membawa persoalan dalam rumah tangga, mulai dari ketidakharmonisan hingga kesulitan ekonomi.
Kepercayaan tersebut memang masih hidup dalam sebagian tradisi keluarga. Namun, penting membedakan antara pantangan budaya, mitos, dan aturan hukum.
Tidak ada larangan hukum yang menyatakan orang Sunda tidak boleh menikah dengan orang Jawa. Pernikahan beda suku pada dasarnya diperbolehkan. Anggapan mengenai pantangan Jawa-Sunda lebih banyak dikaitkan dengan memori sejarah dan kisah Perang Bubat.
Perang Bubat secara umum dikisahkan berkaitan dengan peristiwa pada 1357 Masehi, ketika Kerajaan Majapahit berada di bawah pemerintahan Hayam Wuruk.
Baca Juga: Kebakaran Bromo Meluas, 742 Hektare Terbakar: Saat Api Memukul Nafkah Warga
Dalam kisah yang berkembang, Hayam Wuruk disebut memiliki rencana menikahi Dyah Pitaloka, putri dari Kerajaan Sunda. Rombongan dari Sunda kemudian datang ke wilayah Majapahit untuk keperluan pernikahan.
Namun, persoalan mengenai kedudukan dan status kedatangan rombongan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik. Perselisihan itu berujung pada pertempuran di kawasan Bubat.
Sejumlah tokoh dari pihak Sunda disebut menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Tragedi itu kemudian meninggalkan luka dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda dan Jawa.
Dari sanalah, dalam perkembangan tradisi masyarakat, muncul anggapan bahwa hubungan antara kedua kelompok tersebut sebaiknya dijaga jaraknya. Salah satu bentuk kepercayaan yang kemudian berkembang adalah pantangan menikah antara orang Jawa dan Sunda.
Baca Juga: Bantu Dosen Hadapi Pelaporan BKD, Dunia Dosen Gelar Exclusive Class SISTER Update Mastery
Kepercayaan tersebut tidak berhenti pada kisah sejarah. Dari waktu ke waktu, muncul berbagai anggapan bahwa pasangan Jawa-Sunda akan lebih rentan menghadapi masalah rumah tangga.
Ada yang mengaitkannya dengan ketidakcocokan karakter. Sebagian lainnya percaya pernikahan tersebut dapat mendatangkan kesialan, persoalan ekonomi, atau bahkan berujung pada perceraian.
Namun, tidak ada dasar yang membuktikan bahwa seseorang akan mengalami masalah rumah tangga hanya karena berasal dari suku yang berbeda.
Justru, banyak pasangan Jawa-Sunda yang menjalani kehidupan rumah tangga secara harmonis. Mereka membangun keluarga, membesarkan anak, dan melewati berbagai persoalan kehidupan tanpa menjadikan latar belakang suku sebagai penghalang.
Baca Juga: Mahasiswa Ngamuk Rusak Bendera dan Palang Pintu Kereta di Sleman-Bantul, Polda DIY Ungkap Motifnya
Di sisi lain, kisah Perang Bubat juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Cerita mengenai peristiwa tersebut hadir melalui berbagai sumber historiografi dan sastra dengan konteks penulisan yang berbeda. Karena itu, sejarah, interpretasi, dan mitos yang berkembang kemudian tidak seharusnya diperlakukan sebagai sesuatu yang sama.
Pantangan menikah Jawa-Sunda pada akhirnya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari warisan kepercayaan budaya yang berkembang dari ingatan terhadap masa lalu.
Sejarah Perang Bubat tetap penting dipelajari karena menjadi bagian dari perjalanan hubungan masyarakat Jawa dan Sunda. Namun, sejarah tidak harus berubah menjadi tembok yang membatasi pilihan hidup generasi berikutnya.
Pernikahan adalah pertemuan dua manusia, dua keluarga, dan sering kali dua latar budaya yang berbeda. Yang membuat rumah tangga bertahan bukanlah kesamaan suku semata, melainkan kemampuan untuk saling menghargai, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan bersama.
Baca Juga: Menatap Wajah Baru Kulon Progo: Ketika Harapan Pembangunan Berpadu Restu Ngarso Dalem
Jadi, benarkah orang Sunda tidak boleh menikah dengan orang Jawa? Jawabannya: tidak ada larangan hukum yang demikian. Anggapan tersebut lebih tepat dilihat sebagai mitos atau pantangan budaya yang memiliki akar pada ingatan masyarakat terhadap kisah Perang Bubat.
Sejarah boleh menjadi pelajaran. Namun, keputusan untuk membangun keluarga tidak semestinya ditentukan hanya oleh mitos yang diwariskan dari masa lalu. (Seli)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber