RADAR MALIOBORO - Sejarah Perang Dunia I sering kali diceritakan seolah-olah Eropa hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak.
Padahal, ketika menengok kembali peristiwa yang berlangsung pada musim panas 1914, perang besar itu tidak serta-merta menjadi sebuah kepastian.
Ada sejumlah kesempatan ketika rangkaian peristiwa masih mungkin dihentikan.
Semua bermula pada 28 Juni 1914 di Sarajevo.
Archduke Franz Ferdinand, pewaris takhta Austria-Hongaria, bersama istrinya, Sophie, tewas ditembak oleh Gavrilo Princip, seorang nasionalis Serbia-Bosnia.
Baca Juga: Warung di Ponjong Dibobol, Kerugian Capai Rp30 Juta
Pembunuhan tersebut kemudian menjadi pemicu krisis diplomatik yang dalam hitungan minggu berubah menjadi perang Eropa.
Namun, peluru yang menewaskan Franz Ferdinand sebenarnya bukanlah satu-satunya penyebab perang.
Eropa saat itu sudah berada dalam kondisi penuh kecurigaan.
Persaingan antarnegara, perlombaan persenjataan, kepentingan politik di kawasan Balkan, serta hubungan aliansi membuat satu konflik lokal memiliki kemungkinan menjalar jauh melampaui wilayah asalnya.
Yang membuat tragedi tersebut semakin pahit adalah kenyataan bahwa sejumlah krisis sebelumnya berhasil dilewati tanpa berubah menjadi perang besar.
Para pemerintah negara-negara kekuatan utama Eropa telah beberapa kali menggunakan perundingan dan mediasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang terbuka.
Baca Juga: Masalah Finansial dan Norma Sosial Jadi Pemicu Maraknya Fatherless di Indonesia
Karena itu, pembunuhan di Sarajevo lebih tepat dipandang sebagai pemantik dalam ruangan yang sudah lama dipenuhi bahan mudah terbakar.
Setelah kematian Franz Ferdinand, Austria-Hongaria mengambil sikap keras terhadap Serbia.
Jerman kemudian memberikan dukungan kepada sekutunya tersebut. Pada 23 Juli 1914, Austria-Hongaria menyampaikan ultimatum kepada Serbia dengan tuntutan yang sangat berat.
Di titik inilah ruang untuk menghentikan krisis sebenarnya belum sepenuhnya tertutup.
Serbia memberikan jawaban yang sangat akomodatif terhadap sebagian besar tuntutan tersebut.
Di Inggris, Menteri Luar Negeri Sir Edward Grey berulang kali mendorong penyelesaian melalui konferensi dan mediasi.
Baca Juga: Kunjungi Istiqlal dan Katedral, Putri Mahkota Swedia soroti toleransi Indonesia
Bahkan sejumlah negara masih berusaha mencari formula agar perselisihan Austria-Hongaria dan Serbia tidak berubah menjadi benturan antarkekuatan besar.
Akan tetapi, upaya tersebut tidak mampu menghentikan rangkaian keputusan yang sudah bergerak semakin cepat.
Austria-Hongaria akhirnya menyatakan perang terhadap Serbia pada 28 Juli 1914.
Mobilisasi militer Rusia kemudian meningkatkan ketegangan. Jerman menyatakan perang terhadap Rusia pada 1 Agustus dan Prancis pada 3 Agustus. Ketika pasukan Jerman memasuki Belgia, Inggris ikut masuk ke dalam konflik dengan menyatakan perang terhadap Jerman pada 4 Agustus.
Dalam waktu hanya beberapa pekan, persoalan yang awalnya berpusat pada Austria-Hongaria dan Serbia berubah menjadi peperangan yang melibatkan kekuatan-kekuatan utama Eropa.
Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental di Era Sosmed: Cara Tetap Waras Tanpa Perlu Deactivate Akun
Krisis lokal telah berubah menjadi bencana internasional.
Di sinilah letak sisi paling menyedihkan dari Perang Dunia I.
Perang tersebut bukan hanya lahir dari satu keputusan atau satu tembakan.
Ia terbentuk dari serangkaian pilihan politik yang dilakukan ketika para pemimpin berada di bawah tekanan, ketakutan, ambisi nasional, dan keyakinan bahwa perang mungkin tidak dapat lagi dihindari.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa beberapa jalur menuju perdamaian masih sempat terbuka.
Kajian sejarah mengenai Krisis Juli bahkan menegaskan bahwa perang Eropa pada 1914 tidak bersifat tak terelakkan.
Sampai mendekati pecahnya perang, masih ada negarawan yang berusaha mencegah eskalasi melalui diplomasi, sementara pihak lain mengambil risiko dengan menganggap perang lokal dapat dikendalikan.
Baca Juga: Musik Ceria di Pagi Hari Bisa Bikin Mood Naik? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Kesalahan terbesar mungkin bukan hanya ketika senjata akhirnya ditembakkan.
Kesalahannya terjadi jauh sebelumnya, ketika setiap pihak mulai memperhitungkan kemungkinan perang sebagai sesuatu yang dapat ditanggung.
Perang yang awalnya diperkirakan berlangsung singkat justru berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Jutaan orang tewas, wilayah Eropa porak-poranda, kerajaan-kerajaan besar runtuh, dan peta politik dunia berubah secara drastis.
Perang Dunia I kemudian menjadi salah satu pelajaran sejarah paling mahal tentang bagaimana sebuah krisis dapat kehilangan kendali.
Sebuah pembunuhan memang menjadi pemicunya, tetapi keputusan manusia setelah peristiwa tersebutlah yang mengubah percikan menjadi kobaran.
Dan mungkin itulah bagian paling pahit untuk diingat: sejarah tidak selalu dibentuk oleh peristiwa yang memang harus terjadi.
Dalam beberapa keadaan, sejarah juga lahir dari pilihan-pilihan yang sebenarnya masih bisa diubah.
Editor : Meitika Candra Lantiva