RADAR JOGJA - Berbagai keanehan di pertandingan Liga 2 musim 2023/2024 ini disebut karena adanya permainan mafia. Bahkan mantan Wakil ketua Satgas Anti Mafia Bola, yang dulu pernah dibentuk pemerintah, sudah merilis inisial wasit Liga 2 yang terindikasi jadi bagian mafia bola.
Adalah Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Krisnha Murti, yang juga mantan Wakil ketua Satgas Anti Mafia Bola, yang kali pertama mengungkapnya. Melalui akun media sosial Instagram @krishnamurti_bd91 dia mengungkap ada indikasi kembali terjadinya mafia bola.
"Wasit2 Liga 2 mulai main2 mafia2an. Nanti kalau ditangkap Satgas jangan belagak paling menderita ya. pak Wasit BK, AMR, JLHM cukup ya ngerjain klub2 Liga 2 hanya karena uang secuil tapi menyakiti hati ribuan supporter." Postingan tersebut diunggah pada Rabu (6/12) malam.
Pada 2018 lalu, Krishna merupakan salah satu sosok dalam pemberantasan pengaturan skor. Dia menjadi wakil satgas di bawah Brigjen Hendro Pandowo.
Yang terbaru, dilansir dari jawapos.com September 2023 lalu Satgas Anti Mafia Bola Polri menetapkan enam orang sebagai tersangka dugaan tindakan pidana suap berupa praktik pengaturan skor atau match fixing pada pertandingan sepak bola Liga 2 antara klub x dan klub y pada bulan November 2018.
Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Polri Irjen Pol. Asep Edi Suheri di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (27/9), menyebut keenam tersangka itu terdiri atas empat orang dari pihak wasit dan dua orang dari pihak klub sepak bola.
Keenam tersangka tersebut inisial-nya, K selaku liaison officer atau LO dan A selaku kurir pengantar uang. Kemudian, tersangka M selaku wasit tengah, P selaku asisten wasit 1, R selaku asisten wasit 2 dan A selaku wasit cadangan.
modus operandi yang dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan oleh penyidik Bareskrim Polri adalah pihak klub melakukan lobi atau meminta bantuan kepada para perangkat wasit untuk memenangkan pertandingan salah satu klub sepak bola dengan memberikan iming-iming berupa uang.
"Pihak klub memberikan uang sebesar Rp 100 juta kepada para wasit di hotel tempat para wasit menginap dengan maksud klub x menang melawan klub y," ungkap Asep.
Selain itu, berdasarkan hasil penyidikan, menurut keterangan dari pihak klub yang diperiksa, mengaku sudah mengeluarkan uang sekitar Rp 1 miliar untuk melobi para wasit di sejumlah pertandingan.
"Jadi ada pengakuan bahwa mereka sudah mengeluarkan uang kurang lebih Rp 1 miliar untuk melobi para wasit di sejumlah pertandingan," ujarnya.
Uang Rp 1 miliar tersebut, kata Asep digunakan untuk melobi wasit di setiap pertandingan dalam satu liga. Asep juga menyebut, klub yang terlibat penyuapan tersebut masih aktif dalam pertandingan Liga Indonesia. Sementara wasit yang terlibat masih bertugas sampai 2022.
Editor : Heru Pratomo