SLEMAN - Kekurangan tenaga wasit permainan rakyat dan olahraga tradisional masih menjadi tantangan di Kabupaten Sleman.
Menjawab kebutuhan tersebut, Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman kembali menggelar pelatihan wasit selama dua hari di Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sabtu (22/11) dan Minggu (23/11).
Ketua KPOTI Kabupaten Sleman Syukron Arif Muttaqin mengatakan pelatihan ini merupakan pelaksanaan kedua setelah kegiatan serupa digelar pada 2023.
“Tujuannya tidak hanya melestarikan, tetapi juga mencetak penggerak permainan rakyat dan olahraga tradisional di tingkat lokal,” tegasnya.
Syukron menekankan pentingnya peran wasit dalam menjaga kualitas penyelenggaraan olahraga tradisional.
“Wasit adalah garda terdepan dalam memastikan permainan berjalan adil dan sesuai aturan. Karena itu, kami ingin memperkuat ketersediaan wasit profesional agar setiap event bisa berlangsung tertib dan sesuai standar,” jelasnya saat ditemui.
Syukron menambahkan, setelah kegiatan para peserta diharapkan menjadi pegiat yang mampu menggerakkan permainan rakyat di wilayah masing-masing, baik berbasis komunitas maupun lokasi.
“Ini sejalan dengan semangat mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga,” ujarnya.
Sekretaris DPC PKB Sleman itu memastikan seluruh peserta nantinya akan tercatat secara resmi sebagai wasit profesional Kabupaten Sleman.
Dari sisi kebudayaan, Kepala Seksi Warisan Budaya Tak Benda Dinas Kebudayaan Sleman, Andre Feriangga menilai pelatihan ini berperan penting dalam menjaga keberlanjutan permainan tradisional.
“Ini bukan hanya peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga langkah strategis agar permainan rakyat tetap hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” terangnya.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Bidang Pembinaan Olahraga Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sleman Dwi Handoko Wiyoto.
“Dengan wasit yang terlatih dan profesional, penyelenggaraan event olahraga tradisional akan lebih tertib, menarik, dan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat,” jelasnya.
Pelatihan ini juga mendapat respons positif dari peserta. Muhammad Buyung Manggala, peserta dari Sleman, mengaku banyak memperoleh wawasan baru.
“Teori dan praktik dipaparkan oleh mentor berpengalaman. Saya jadi lebih memahami peran dan tanggung jawab wasit,” katanya.
Peserta lain, Adellya Ningrum dari Tempel, berharap dapat berkontribusi dalam pelestarian permainan rakyat.
“Saya ingin ikut menghidupkan kembali olahraga tradisional di lingkungan saya. Pelatihan ini memberi saya bekal yang lebih jelas,” ujarnya.
Tercatat 52 peserta mengikuti pelatihan ini. Hari pertama berisi teori perwasitan, sementara hari kedua fokus pada praktik lapangan dengan tiga permainan utama: egrang, terompah panjanand g, dan hadang (gobak sodor). (naf)
Editor : Iwa Ikhwanudin