RADAR MALIOBORO - Musim Formula 1 (F1) 2025 resmi berakhir dengan drama perebutan gelar juara dunia pembalap (World Driver Championship) hingga grand prix terakhir di Yas Marina Circuit, Abu Dhabi.
Meskipun memenangkan balapan dengan finish di urutan ke-1, Max Verstappen, pembalap utama Red Bull, harus merelakan gelar juara dunia pembalap.
Sebab kejuaraan jatuh ke tangan pembalap asal Inggris, Lando Norris dari McLaren yang finish di urutan ke-3 setelah kalah tipis dengan hanya selisih dua poin di klasemen akhir.
Dengan berakhirnya Abu Dhabi Grand Prix 2025, Federasi Otomotif Internasional (FIA) secara resmi telah merilis jadwal lengkap Formula 1 untuk musim 2026.
Sebanyak 24 seri balapan telah dikonfirmasi, dimulai dari Albert Park Circuit, Australia pada awal Maret dan berakhir di Yas Marina Circuit, Abu Dhabi pada bulan Desember.
Musim 2026 sendiri akan menjadi tonggak sejarah baru dengan penerapan regulasi teknis besar-besaran, termasuk power unit yang direvisi dan aerodinamika aktif.
Formula 1, tengah berada di ambang perubahan besar.
Tahun 2026 bukan hanya sekadar pergantian musim, namun merupakan bentuk turning point yang diharapkan bisa menyelamatkan olahraga yang kini terasa semakin jauh dari jiwa balap yang sejati.
Regulasi baru diperkenalkan oleh FIA dan kepemimpinan FOM (Formula One Management) menjanjikan dunia F1 yang lebih exciting, lebih terjangkau, dan lebih ramah lingkungan.
Tapi apakah janji itu cukup untuk menyelamatkan rasa kecewa yang menghantui para penggemar?
Dilansir dari keputusan dewan Fédération Internationale de l’Automobile (FIA), dijelaskan bahwa regulasi baru bertujuan menghadirkan mobil ringan, cepat, dan tetap kaya teknologi.
Mereka menegaskan konsep “nimble car” yang dirancang agar generasi mobil berikutnya lebih lincah dan kompetitif.
Mobil akan jauh lebih ringan di F1 2026. Bobot mobil turun hingga 30 kilogram mencapai berat minimum 768 kilogram (sebelumnya 798 kilogram di tahun 2025).
Tak hanya itu, panjang mobil juga akan dikurangi sebanyak 10 cm, dan jarak sumbu roda (wheelbase) sebanyak 20 cm.
Ukuran tersebut akan membuat mobil F1 lebih dinamis untuk mempermudah saat berduel atau menyalip (overtaking).
Mobil akan mengandalkan mesin listrik hybrid lebih besar bukan sebagai pengganti, tapi sebagai supplement untuk mesin combustion internal dan sistem push-to-pass yang lebih cerdas.
Dengan kata lain, mobil-mobil akan bisa mengejar lebih dekat, aksi overtake akan lebih sering terjadi, dan membuat balapan terasa "tangguh" seperti zaman dulu.
Sistem Drag Reduction System (DRS) yang digunakan untuk membantu aksi overtake juga akan ditiadakan dan diganti dengan sistem aerodinamika aktif.
Nantinya pembalap dapat menyesuaikan sayap depan dan belakang mobil ke 'X-Mode' di lintasan lurus dan 'Z-mode’ di tikungan.
Bahan bakar F1 2026 akan sepenuhnya 100% berkelanjutan (sustainable fuel), bukan lagi campuran bensin fosil, melainkan menggunakan karbon yang berasal dari sampah kota, biomassa non-pangan, bahkan langsung dari atmosfer (penangkapan karbon) untuk mencapai target netralitas karbon F1, dengan komposisi utama tetap 90% bahan bakar dan 10% etanol terbarukan.
"10% etanol yang kami gunakan sekarang sepenuhnya berkelanjutan, ada banyak jenis etanol, dengan kualitas yang bervariasi, tetapi ini adalah etanol hijau sejati – jadi sepenuhnya berkelanjutan," ucap F1’s Chief Technical Officer, Pat Symonds.
F1 akan menjadi olahraga balapan yang lebih ramah lingkungan selaras dengan komitmen mengurangi emisi karbon "Net-Zero by 2030".
Regulasi F1 2026 sangat diharapkan tetap menjaga relevansi olahraga balap (otosport) di era otomotif modern.
Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem mengatakan: "Hari ini, FIA sedang merumuskan masa depan yang sangat menarik bagi puncak olahraga balap mobil dengan peluncuran serangkaian peraturan baru yang komprehensif untuk Kejuaraan FIA Formula Satu 2026 dan seterusnya."
Di balik regulasi besar-besaran di 2026, ada pertanyaan yang muncul di kalangan penggemar: apakah ini hanya re-branding kembali ke masa lalu, atau benar-benar perubahan yang berkelanjutan? (Muhammad Aryo Witjaksono)
Editor : Meitika Candra Lantiva