RADAR MALIOBORO - Di kalangan pendaki Indonesia, terdapat dua gaya mendaki yang populer, yaitu tektok dan ngecamp.
Dua cara tersebut kerap menjadi bahan perdebatan di media sosial, terutama di kalangan pendaki pemula hingga yang sudah berpengalaman.
Biasanya, pendaki camping sejati menganggap mendaki bukan sekadar soal mencapai puncak, tetapi juga tentang menikmati proses.
Bagi mereka, aktivitas mendirikan tenda, memasak di alam, hingga bermalam di bawah langit penuh bintang merupakan pengalaman penting yang tak boleh dilewatkan saat mendaki gunung.
Ngecamp juga dianggap memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan alam dan beristirahat dengan cukup, sehingga dapat meminimalkan risiko kelelahan.
Sebaliknya, pendaki tektok, atau pendaki yang naik turun gunung satu hari ini lebih mengutamakan efisiensi waktu. Cara ini banyak dipilih oleh pendaki yang memiliki keterbatasan waktu, ingin melatih fisik, atau sekadar menantang diri sendiri.
Tentunya, pendaki tektok harus mempersiapkan fisik dan mental yang benar-benar matang.
Pasalnya, waktu istirahat yang singkat, tempat beristirahat yang ala kadarnya, serta kondisi cuaca seperti hujan menjadi tantangan tersendiri karena mereka tidak bisa berteduh atau merebus air hangat.
Sebenarnya tidak ada gaya mendaki yang paling benar atau paling salah. Setiap gunung memiliki karakter dan ketinggian yang berbeda-beda.
Setiap pendaki juga punya keterbatasan waktu, kemampuan fisik, dan pengalaman mereka masing-masing.
Oleh karena itu, bagi siapa pun yang ingin mendaki atau bahkan yang baru memulai, penting untuk memahami batas kemampuan diri serta mempersiapkan perlengkapan yang sesuai.
Baca Juga: Line Up dan Penampilan Paling Ditunggu di Saemen Fest 2025
Jangan sampai naik gunung justru menjadi pengalaman yang berujung penyesalan dan membahayakan keselamatan.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin