Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kenapa Sepak Bola Indonesia Sulit Maju Meski Digemari di Mana-Mana?

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 19 Desember 2025 | 21:56 WIB
Anak-anak Indonesia sedang berlatih sepakbola di bawah terik matahari. (Fienso Suharsono/Pinterest)
Anak-anak Indonesia sedang berlatih sepakbola di bawah terik matahari. (Fienso Suharsono/Pinterest)

RADAR MALIOBORO - Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat fanatisme sepak bola tertinggi di dunia. Data dari @goodstats.id pada Maret 2025 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah penggemar sepak bola terbanyak di dunia, berada di bawah China dan Brasil.

Namun, di tengah besarnya antusiasme publik terhadap sepak bola, prestasi Tim Nasional Indonesia masih belum sepenuhnya memuaskan. Bahkan, untuk meningkatkan daya saing di level internasional, Timnas Indonesia masih sangat bergantung pada pemain keturunan yang lahir dan besar di Belanda.

Ada beberapa faktor yang kerap dianggap menjadi penyebab lambatnya kemajuan sepak bola Indonesia. Salah satunya adalah faktor fisik. Secara biologis, postur dan kekuatan fisik masyarakat Indonesia dinilai tidak sekuat pemain dari Eropa, Afrika, maupun Amerika. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya relevan jika melihat Jepang dan Korea Selatan yang mampu bersaing di level dunia meski memiliki postur relatif kecil.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah keterbatasan fasilitas. Banyak lapangan di Indonesia masih kurang terawat, bahkan sejumlah stadion belum memenuhi standar FIFA. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada kualitas latihan dan kompetisi.

Aspek pembinaan usia dini juga menjadi sorotan. Pundit sepak bola nasional, Coach Justin, menilai bahwa sistem pembinaan di Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia belum selaras dengan perkembangan sepak bola modern.

“Dari kecil, anak-anak sudah ditanamkan filosofi bahwa pemain hebat adalah yang paling banyak lari dan paling sering melewati lawan,” ujarnya dalam podcast Offside Duo.

Menurut Coach Justin, kemampuan dasar seperti passing dan control seharusnya menjadi fondasi utama, bukan dribbling. Pandangan ini sejalan dengan realitas fisik pemain Indonesia yang tidak ideal untuk terus dipaksa adu kekuatan.

“Yang harus diandalkan itu otak atau IQ bermain, bukan memaksakan duel fisik yang ujung-ujungnya jatuh,” tambahnya.

Ke depan, PSSI diharapkan dapat menanamkan filosofi bermain yang jelas dan seragam kepada seluruh SSB di Indonesia. Dengan pembinaan yang tepat sejak usia dini, Timnas Indonesia berpeluang mencapai level yang lebih tinggi melalui pemain lokal hasil sistem pengembangan dalam negeri.

(Affrendi Kurniawan)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#sulit #sepakbola #Digemari #maju #sepak bola