RADAR MALIOBORO - Sepak bola masih menjadi olahraga paling populer di Indonesia. Mulai dari anak-anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola, bapak-bapak yang setia mendukung klub kesayangannya, hingga fanbase anak muda yang fanatik terhadap klub dalam negeri, luar negeri, maupun tim nasional.
Namun, di balik popularitas yang begitu besar, prestasi sepak bola Indonesia belum sebanding dengan tingginya ekspektasi publik.
Di sisi lain, futsal yang sering dipandang sebagai adik sepak bola, justru menunjukkan grafik prestasi yang lebih menjanjikan. Hingga Desember 2025, timnas futsal senior Indonesia menempati peringkat ke-18 dunia dan baru-baru ini menorehkan kemenangan telak 6–1 atas Thailand, raja futsal Asia Tenggara, di ajang final SEA Games.
Bukan hanya itu, timnas futsal juga pernah mencatatkan beberapa kemenangan besar atas negara-negara kuat, seperti mengalahkan belanda 5-1, australia 3-1 dan membantai Inggris 7-2 pada tahun 2007 silam.
Lantas, mengapa futsal di Indonesia yang kalah pamor ini, tetapi justru unggul dalam prestasi dibanding sepak bola?
1. Gaya Bermain yang Lebih Sesuai dengan Karakter Pemain Indonesia
Futsal menuntut permainan cepat, rapat, dan berbasis umpan pendek. Duel udara nyaris tidak pernah terjadi, berbeda dengan sepak bola lapangan yang sangat bergantung pada fisik dan kekuatan badan.
Karakter ini permainan tersebut lebih cocok dengan mayoritas pemain Indonesia yang kurang dalam tinggi badan dan kekuatan fisik.
2. Infrastruktur yang tersebar dimana-mana
Salah satu keunggulan utama futsal terletak pada ketersediaan fasilitas. Lapangan futsal jauh lebih mudah dibangun, tidak memerlukan lahan luas, dan bisa dioperasikan secara komersial. Sehingga, tak jarang disetiap gang-gang terdapat lapangan futsal yang diisi oleh kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pekerja.
Sebaliknya, lapangan sepak bola berstandar layak masih terbatas dan sering terkendala perawatan. Kondisi ini membuat proses pembinaan sepak bola tidak berjalan merata.
Baca Juga: Tissa Biani Resmi Jadi Ratu Box Office Indonesia? Tiga Filmnya Tembus Jajaran Terlaris
3. Sistem Kompetisi yang Lebih Stabil
Futsal Indonesia memiliki struktur liga yang relatif konsisten. Kompetisi profesional berjalan rutin, ditopang oleh sponsor, serta dilengkapi dengan jenjang liga putra dan putri. Selain itu, turnamen tingkat pelajar dan amatir berlangsung hampir sepanjang tahun.
Sementara itu, sepak bola Indonesia kerap menghadapi persoalan klasik, mulai dari perubahan format liga, konflik manajemen, hingga gangguan non-teknis yang berdampak pada pembinaan pemain. Ketidakstabilan ini membuat progres jangka panjang sulit terjaga.
4. Pembinaan yang Masif
Futsal telah masuk ke lingkungan sekolah dan kampus sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang mudah difasilitasi. Kompetisi antar-SMP, SMA, hingga mahasiswa juga sering menggelar turnamen secara mandiri, bahkan tanpa bantuan dari federasi. Proses ini membentuk mental bertanding yang konsisten dan berjenjang.
Di sepak bola, pembinaan usia dini masih sangat bergantung pada akademi tertentu dengan biaya yang tidak selalu terjangkau. Akibatnya, banyak potensi pemain yang tidak tersaring secara optimal.
5. Tekanan Publik yang Lebih Rendah
Popularitas sepak bola membawa konsekuensi berupa tekanan besar dari media dan publik. Setiap kegagalan kerap dibesar-besarkan, memengaruhi mental pemain dan tim. Futsal relatif terbebas dari sorotan berlebihan, sehingga pemain bisa berkembang tanpa beban ekspektasi yang terlalu tinggi.
Minimnya tekanan ini justru menciptakan ruang tumbuh yang sehat bagi futsal Indonesia untuk membangun prestasi secara bertahap.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin