Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Latihan Aerobik Delapan Minggu Terbukti Ampuh Turunkan Gejala Gangguan Suasana Hati Pada Remaja Korban Trauma 

Bunga Faizati Hudianna • Rabu, 10 Juni 2026 | 16:12 WIB
Ilustrasi aerobik yang dapat menurunkan gejala gangguan suasana hati. (Foto: Magnific)
Ilustrasi aerobik yang dapat menurunkan gejala gangguan suasana hati. (Foto: Magnific)

 RADAR MALIOBORO - Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience mengungkapkan bahwa intervensi latihan aerobik selama delapan minggu secara signifikan mampu mengurangi gejala gangguan suasana hati atau mood pada orang dewasa yang pernah mengalami peristiwa traumatis. 

Penelitian yang dilakukan oleh Allison L. Mizzi, Margaret C. McKinnon, dan Suzanna Becker dari McMaster University ini menjadi studi pertama yang mengevaluasi dampak olahraga aerobik secara khusus pada populasi dewasa muda yang mengalami trauma, namun belum atau tidak didiagnosis menderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). 

Diperkirakan sekitar 76% warga Kanada pernah mengalami setidaknya satu peristiwa traumatis dalam hidup mereka. Meski sebagian besar dari mereka tidak memenuhi kriteria diagnosis klinis PTSD menurut panduan DSM-5, banyak di antaranya yang tetap menderita gejala subklinis, seperti depresi, kecemasan, dan penurunan fungsi sosial yang sangat mengganggu keseharian mereka. 

Baca Juga: Akhiri Vakum 18 Tahun, Dee Lestari Rilis Album (Jangan) Jatuh Cinta dan Bersiap Terbitkan Buku Puisi

Sayangnya, akses terhadap terapi psikologis gratis yang didanai pemerintah sering kali membutuhkan waktu tunggu hingga satu tahun atau lebih dan mewajibkan diagnosis PTSD. Kondisi inilah yang mendorong para peneliti mencari alternatif penanganan kesehatan mental yang efektif, murah, dan mudah dilakukan. 

Studi ini melibatkan 25 orang dewasa muda (usia 18–30 tahun) yang memiliki tingkat aktivitas fisik rendah dan menunjukkan gejala trauma subklinis. Karena penelitian dilakukan di tengah pembatasan COVID-19, seluruh program dijalankan secara daring dari rumah masing-masing peserta dengan memanfaatkan pemantauan jam pintar Fitbit dan panggilan konferensi video terencana. 

Para peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok: 

1. Kelompok Olahraga: Menjalani latihan aerobik intensitas sedang yang dipandu instruktur sebanyak 3 kali seminggu selama 8 minggu. Setiap sesi berlangsung selama 40 menit, mencakup pemanasan, gerakan berbasis berat badan tanpa alat (seperti squats, lunges, mountain climbers, dan jumping jacks), serta pendinginan. 

Baca Juga: App-Hopping dari Satu Aplikasi ke Aplikasi yang lain? Ini Alasan di Baliknya!

2. Kelompok Kontrol (Waitlist): Diminta untuk mempertahankan aktivitas fisik harian mereka yang rendah seperti biasa. 

Setelah delapan minggu, hasil analisis menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok di antara kedua kelompok. 

Kelompok yang rutin berolahraga mengalami penurunan skor gejala suasana hati (skor DASS-21) yang signifikan, yaitu merosot sekitar 8 poin. Sebaliknya, kelompok kontrol yang tidak berolahraga justru mengalami kenaikan skor hingga hampir 5 poin.

Baca Juga: Kabar Gembira untuk Gamer! Resident Evil Code: Veronica Remake Dikabarkan Bakal Dirilis pada 2027

Para peneliti mencatat bahwa kenaikan stres pada kelompok kontrol terjadi karena evaluasi akhir bertepatan dengan masa ujian akhir semester kuliah, membuktikan bahwa olahraga aerobik bertindak sebagai pelindung (protective agent) dari lonjakan stres. 

Selain kebugaran fisik mereka yang terbukti meningkat, kelompok olahraga menunjukkan perbaikan nyata dalam kemampuan regulasi emosi (skor DERS). Mereka menjadi lebih adaptif dalam mengelola emosi negatif. 

Walaupun perubahan gejala trauma (skor PCL-5) belum mencapai tingkat signifikansi statistik yang tinggi dalam 8 minggu, kelompok olahraga memperlihatkan tren penurunan gejala trauma yang jauh lebih baik daripada kelompok kontrol. 

Baca Juga: Putus Setelah 14 Tahun Pacaran, Unggahan Jung Kyung Ho Sebelum Unfollow Sooyoung Disorot

Dengan rutin melakukan latihan aerobik yang sederhana dan dapat dilakukan di rumah, orang dewasa muda yang pernah mengalami trauma diharapkan dapat mengelola kesehatan mental mereka secara mandiri, sekaligus mencegah kondisi tersebut memburuk menjadi gangguan klinis seperti depresi berat atau PTSD di masa depan. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#aerobik #Gejala gangguan #suasana hati #mood