BANTUL – Pertandingan sepak bola amatir di Kabupaten Bantul yang seharusnya menjadi ruang kompetisi dan hiburan justru diwarnai insiden pemukulan terhadap pemain. Kejadian tersebut berlangsung dalam laga PS Sendangsari melawan PS Bawuran pada ajang Divisi Super Liga Bantul 2026 di Lapangan Bawuran.
Insiden itu menjadi perhatian setelah sebuah video yang merekam kejadian tersebut beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang oknum suporter terlihat mendekati salah satu pemain dan melakukan pemukulan setelah sebuah gol tercipta.
Peristiwa tersebut kemudian memicu perbincangan di kalangan pencinta sepak bola. Aksi kekerasan di lingkungan pertandingan amatir dinilai tidak seharusnya terjadi, terlebih sepak bola semestinya menjadi ruang untuk menjunjung sportivitas dan kebersamaan.
Ketua Askab PSSI Bantul, Aris Suharyanta, menegaskan bahwa tindakan pemukulan tersebut tidak dapat dibenarkan. Pihaknya menilai insiden itu merupakan pelanggaran yang harus ditangani sesuai ketentuan hukum.
Baca Juga: Merapi Belum Benar-Benar Tenang, 15 Guguran Lava Terjadi dalam Sehari
Menurut Aris, Askab PSSI Bantul tidak ingin persoalan tersebut diselesaikan hanya di lingkungan sepak bola. Karena menyangkut dugaan tindak kekerasan, penanganannya diserahkan kepada aparat penegak hukum.
“Itu menurut informasi bukan penggemar sepak bola yang melakukan pemukulan. Askab mendorong agar itu diproses sebagai pelanggaran dan kami serahkan kepada aparat penegak hukum,” ujar Aris saat ditemui di Ros-In Hotel, Bantul, Minggu (9/8) sore.
Aris juga menyampaikan bahwa pemain yang menjadi korban mengalami sejumlah luka akibat kejadian tersebut. Kondisi itu membuat Askab PSSI Bantul mendorong korban untuk menempuh jalur hukum agar kasusnya dapat diproses secara semestinya.
Bagi Askab PSSI Bantul, kejadian tersebut menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola amatir. Pertandingan seharusnya berlangsung dengan menjunjung aturan, baik oleh pemain, perangkat pertandingan, klub maupun penonton.
Baca Juga: Cari Rumput di Bukit Klangon Sleman, Warga Kalitengah Lor Ditemukan Meninggal di Dasar Tebing
Terlebih, kompetisi sepak bola di tingkat daerah tidak hanya menjadi arena untuk mencari kemenangan. Ada nilai pembinaan, kebersamaan, sekaligus upaya menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap olahraga.
Karena itu, tindakan yang berujung pada kekerasan dikhawatirkan justru merusak semangat tersebut. Askab PSSI Bantul pun mengingatkan seluruh klub peserta agar memahami konsekuensi apabila terjadi pelanggaran selama kompetisi.
Aris menegaskan bahwa pihaknya telah memiliki komitmen bersama klub-klub yang mengikuti Divisi Super Liga Bantul 2026. Ketentuan terkait pelanggaran juga telah disampaikan kepada peserta sejak kompetisi berlangsung.
“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Kami sudah memiliki komitmen dengan klub-klub peserta. Kalau memang ada pelanggaran, kompetisinya bisa kami hentikan,” tegasnya.
Baca Juga: Senam Pagi Berujung Petaka di Sleman, Tembok SDN Minomartani 2 Roboh Timpa 10 Warga
Kasus pemukulan tersebut kini menjadi pengingat bahwa atmosfer panas dalam pertandingan tidak boleh berubah menjadi kekerasan. Persaingan di lapangan semestinya berhenti ketika peluit pertandingan berakhir, sementara keselamatan pemain dan semua pihak yang berada di sekitar lapangan tetap menjadi prioritas.
Askab PSSI Bantul berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam kompetisi sepak bola di wilayah tersebut. Penonton juga diharapkan dapat menjaga sikap dan mendukung tim dengan cara yang tetap menjunjung sportivitas.
Dengan demikian, lapangan sepak bola tidak hanya menjadi tempat mengejar kemenangan, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, persaudaraan, dan kecintaan terhadap olahraga di Bantul. (ayu)
Editor : Iwa Ikhwanudin