Kisah Athaullah Daib Pratama, Siswa SMAN 2 Playen yang Tembus Skuad Senior PSIM Jogja

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:54 WIB
Sekolah Pagi, Latihan Sore, Athaullah Daib Jalani Peran Ganda Setelah Promosi ke Tim Senior PSIM di Usia 16 Tahun. (dokumen PSIM Jogja)
Sekolah Pagi, Latihan Sore, Athaullah Daib Jalani Peran Ganda Setelah Promosi ke Tim Senior PSIM di Usia 16 Tahun. (dokumen PSIM Jogja)

 YOGYAKARTA — Di saat anak-anak seusianya menikmati riuhnya masa-masa SMA bersama teman sebaya, Athaullah Daib Pratama justru memikul tanggung jawab besar di bahu mudanya.

Di usia yang baru menginjak 16 tahun, penjaga gawang kelahiran 9 April 2010 ini menorehkan lompatan besar dalam kariernya: promosi langsung ke skuad senior PSIM Jogja.

Kini, hari-hari Daib diwarnai ritme yang tak biasa.

Ia harus mampu menyatukan dua dunia yang berbeda—antara kewajiban menuntut ilmu di SMAN 2 Playen, Gunungkidul, dan dedikasi mengawal gawang Laskar Mataram di Kota Yogyakarta.

Baca Juga: Persiapan Wisuda Jogja 2026, Cek Jadwal Kampus, MUA, Kebaya, hingga Tempat Makan dari Sekarang

Setiap pagi, Daib tetap duduk manis di bangku kelas XI, mendengarkan penjelasan guru dan berbaur sebagai siswa biasa.

Namun begitu tengah hari tiba, langkah kakinya berpacu dengan waktu.

Mengendarai sepeda motor menyusuri jalur meliuk Gunungkidul menuju Kota Jogja, ia bergegas mengejar jadwal latihan sore.

Jika PSIM menggelar sesi latihan pagi, ia terpaksa mengantongi izin dari sekolah demi profesionalisme yang mulai dituntut darinya.

Baca Juga: Tiga Kepala, Satu Impian, Kisah Haru Mahasiswa UMY Menembus Batas di Malaysia

"Alhamdulillah, saya bersyukur sekali bisa menembus tim senior di usia 16 tahun. Semua ini berkat kerja keras yang konsisten, mulai dari proses seleksi hingga berlaga di Elite Pro Academy (EPA)," tutur Daib dengan nada rendah hati.

Perjalanan Daib menembus level profesional sejatinya dibangun dari fondasi yang panjang.

Sejak kecil, jemarinya sudah terbiasa dengan dinginnya sarung tangan kiper.

Pengalaman berharga pernah merajut mentalitasnya saat terpilih masuk tim Barati pada 2023 lalu.

Baca Juga: Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Guguran, Meluncur 1,8 Km ke Arah Kali Krasak dan Boyong

Kala baru berusia 13 tahun, ia terbang jauh ke Swedia untuk berlaga di ajang bergengsi Gothia Cup setelah lolos seleksi ketat di Bali.

Pengembangan bakat Daib tak lepas dari sentuhan dingin tangan pelatih lokal seperti Oni Kurniawan.

Dari sang mentor, Daib tidak hanya menyerap teknik menepis bola, tetapi juga filosofi mendalam tentang ketenangan jiwa di bawah mistar gawang.

Pesan Oni yang selalu terpatri di dadanya sangat sederhana: bertandinglah dengan hati dan nikmati setiap detik di lapangan tanpa beban.

Baca Juga: 30 Tahun Wafat, Wartawan Bernas Udin Terus Diperjuangkan Raih Gelar Pahlawan Nasional

Keberuntungan Daib berlanjut ketika potensinya dilirik oleh pelatih kiper asal Italia, Mario Capece.

Rekomendasi Capece menjadi pintu masuk Daib ke skuad utama di bawah arahan pelatih kepala asal Belanda, Jean Paul van Gastel.

Menatap jajaran pelatih berkaliber Eropa membuat semangat Daib makin membara.

Ia menyerap setiap taktik dan budaya sepak bola modern Eropa dengan penuh antusias.

Baca Juga: Merah Putih Mulai Menghiasi Jalanan, Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI Terasa di Berbagai Sudut Kota

Meski bersaing dengan senior-senior berani mati, Daib tak gentar.

Ia melangkah ke lapangan dengan senyum dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Dukungan penuh dari orang tuanya yang berpesan agar ia menyikapi segala proses tanpa beban menjadi benteng emosional terkuatnya.

Di balik kontrak satu musim dan kesempatan membela tim EPA PSIM, Daib menyelipkan asa yang jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Baru Bangun Langsung Cek HP? Kebiasaan Ini Bisa Mengacaukan Fokus Pagi Hari

"Target terbesar saya adalah mengenakan seragam Timnas Indonesia suatu hari nanti. Semoga saya bisa terus berproses menjadi lebih baik," pungkasnya penuh harap. (iza) 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Athaullah Daib Pratama Berita Sepak Bola Jogja Pemain Muda PSIM psim jogja SMAN 2 Playen