RADAR MALIOBORO - Baru – baru ini industri UMKM di Indonesia tengah khawatir akan kedatangan sebuah platform e-commerce terbaru yang dinilai mengancam laju pertumbuhan usaha mereka.
Pasalnya, platform yang satu ini benar - benar menawarkan barang berkualitas dengan harga yang cukup terjangkau di kelasnya.
Dinamakan dengan TEMU, aplikasi e-commerce ini memiliki konsep dimana penjualan terjadi langsung dari pabrik kepada konsumen.
Ini yang menyebabkan harga setiap barangnya bisa jauh lebih murah daripada platform e-commerce lain. Dan hal ini juga yang berpotensi menghentikan lapangan kerja di bidang industri.
Mengutip dari beberapa sumber, aplikasi TEMU sudah beberapa kali hendak masuk sebagai platform resmi di Tanah Air, namun izin mereka selalu ditolak oleh pemerintah.
Disamping potensi ancaman platform TEMU terhadap platform e-commerce lain, mereka masih belum mengantongi izin untuk berdagang serta menjalankan operasi mereka secara luas.
Sehingga dapat dikatakan keberadaan mereka masih illegal.
Namun, apakah TEMU benar – benar digadang dapat mematikan bisnis UMKM di Indonesia?
Padahal, jika diperhatikan salah satu permasalahan UMKM justru terletak pada sistem kita sendiri.
Mengutip dari CNBC, Ekonomi digital UMKM Indonesia didominasi oleh reseller daripada produsen, membuat adanya spekulasi harga tinggi daripada aslinya.
Dampak yang bisa ditimbulkan dari kegiatan reseller ini adalah permintaan pasar yang kian menurun untuk beberapa produk yang disebabkan harga tinggi tersebut.
Hasilnya, masyarakat semakin enggan membelanjakan uang mereka. Permintaan pasar yang berkurang lantaran harga terus tinggi bisa kita sebut inflasi.
Menurut Laman Disperindag Kepulauan Bangka Belitung, ada 3 faktor yang menyebabkan inflasi, salah satunya banyaknya uang yang beredar.
Hal ini karena banyak orang lebih memilih untuk menyimpan uang mereka di bank daripada dipakai untuk transaksi jual beli. Uang tersebut akhirnya tidak berputar sebagaimana mestinya.
Jumlah uang yang beredar di sebuah bank akan jauh lebih tinggi dibanding jumlah produk.
Meskipun tidak berefek secara langsung, nyatanya kegiatan reseller ini juga memiliki potensi mematikan bisnis UMKM.
Hanya saja, kebanyakan pihak masih menutup mata dan berfokus pada pengembangan e-commerce yang dinilai sebagai solusi pemasaran barang secara efisien dan praktis.
Konsep yang dibawa TEMU inilah yang bisa melawan pertumbuhan bisnis reseller yang tidak terkontrol.
Sebagai contoh, adanya TEMU memotivasi dorongan produksi dalam negeri yang lebih kuat, karena mengandalkan banyak pabrik secara langsung.
Orang – orang dapat membeli produk berkualitas tinggi dengan harga lebih terjangkau.
Interaksi pembeli dan produsen saling memberikan efek mutualisme karena pembeli bisa langsung melihat produk yang ditawarkan, beda halnya dengan e-commerce saat ini yang marak terjadi penipuan lantaran barang yang ditunjukkan berbeda dengan hasil pengiriman.
Disamping pro dan kontra dari TEMU, pemerintah diharapkan dapat mengambil kebijakan yang pasti terkait operasi TEMU ini.
Bisa saja ke depannya, konsep TEMU dipakai sebagai terobosan dalam memajukan perekonomian di Indonesia, terutama sektor menengah ke bawah. (Muhammad Malik Nadzif)
Editor : Meitika Candra Lantiva