Sebuah tim ilmuwan dan pelestari lingkungan telah berhasil membuahi badak putih betina terakhir secara in vitro, memberikan harapan bagi kelangsungan hidup spesies yang hampir punah ini.
Badak putih telah menjadi salah satu simbol perjuangan melawan perburuan liar yang tidak terkendali.
Namun, dengan hanya sedikit individu yang tersisa di alam liar, peluang untuk memulihkan populasi alaminya semakin sulit.
Oleh karena itu, program bayi tabung dinilai sebagai langkah terbaik untuk menjaga kelangsungan hidup spesies ini.
Melalui proses IVF atau fertilisasi in vitro (IVF), ilmuwan BioRescue berhasil mentransfer embrio ke induk badak pengganti, menandai kisah sukses IVF pada badak yang pertama di dunia.
Langkah ini akan membantu mencegah kepunahan badak putih utara, yang saat ini hanya tersisa dua individu di dunia.
Mereka adalah dua wanita bernama Najin dan Fatu. Sperma dikumpulkan dari badak putih selatan bernama Athos yang tinggal di Kebun Binatang Salzburg, Austria. Sedangkan telurnya diambil dari Elenore yang tinggal di Kebun Binatang Pairi Daiza, Belgia.
Setelah 70 hari hamil, induk badak mati karena infeksi Clostridia, bakteri mematikan yang ditemukan di tanah.
Namun hasil otopsi menunjukkan janin laki-laki sepanjang 6,5 cm itu berkembang dengan baik dan berpeluang 95% untuk dilahirkan.
IVF pada badak terbukti membaik. Selanjutnya, para ilmuwan akan mencoba menggunakan embrio badak putih utara.
Saat ini hanya ada 30 embrio badak putih utara di dunia yang disimpan di Jerman dan Italia. Embrio diambil dari Fatu, badak putih termuda.
Editor : Bahana.