Sedotan ramah lingkungan iini diharapkan dapat menjadi solusi pengurangan sampah plastik.
Sedotan bernama StrawBite ini dibuat oleh empat mahasiswa: Alfian Dwi Wahyudi, Clarence Rex Maximilian H, Natasya Octavia, dan Yemima Destaliza Samantha.
Bahan tepung beras dan tapioka membuat sedotan ini keras dan mampu bertahan di ruang terbuka selama 40 hari.
Saat digunakan dalam minuman, sedotan ini dapat bertahan sekitar 3-5 jam.
Tim StrawBite berencana untuk terus menyempurnakan produk mereka, termasuk menciptakan varian bentuk dan warna.
Mereka berharap sedotan ini dapat membantu mengurangi sampah plastik.
Inovasi sedotan StrawBite menunjukkan potensi bahan pangan sebagai alternatif bahan plastik.
Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi penggunaan plastik dari bahan fosil yang mencemari lingkungan.
Kepala Program Studi Teknik Kimia Universitas Surabaya, Dr. Aloisiyus Yuli Widianto, mendukung pengembangan sedotan ramah lingkungan ini.
Ia menyarankan penggunaan pewarna alami dari buah-buahan untuk meningkatkan nilai ramah lingkungan sedotan.
Inovasi sedotan StrawBite menunjukkan potensi bahan pangan sebagai alternatif bahan plastik.
Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi penggunaan plastik dari bahan fosil yang mencemari lingkungan.
Sedotan StrawBite yang terbuat dari tepung beras dan tapioka merupakan salah satu inovatif untuk mengurangi sampah plastik.
Dukungan dari akademisi dan pengembangan bahan plastik alami dapat membantu mewujudkan lingkungan yang lebih lestari.
Sumber : Instagram @molandnewsid