Kembalinya fitur ini disambut gembira para pelaku usaha kecil menengah (UMKM) yang sebelumnya bergantung pada siaran langsung untuk menjangkau konsumen dan meningkatkan penjualan.
Fitur Live sendiri menjadi salah satu sarana utama bagi UMKM dalam memperkenalkan produk, berinteraksi langsung dengan pembeli, sekaligus membangun kepercayaan pelanggan.
Oleh karena itu, pemulihan layanan ini dianggap sangat membantu para pelaku usaha untuk kembali menggerakkan roda bisnis mereka setelah sempat terganggu akibat penonaktifan sementara.
TikTok sempat menonaktifkan fitur Live di Indonesia secara sukarela pada akhir Agustus 2025. Kebijakan itu diambil bertepatan dengan maraknya gelombang demonstrasi di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.
Menurut keterangan perusahaan, langkah tersebut ditempuh sebagai upaya pencegahan agar fitur tidak disalahgunakan di tengah situasi yang berpotensi menimbulkan kericuhan, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters dan Medial.
Penonaktifan fitur ini sempat memicu keluhan dari berbagai pihak, khususnya pelaku UMKM yang mengandalkan Live untuk memasarkan produk mereka secara langsung kepada konsumen.
Selama masa penghentian, banyak pelaku usaha kecil mengaku mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan karena tidak dapat menjual secara interaktif melalui platform tersebut.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa pemerintah memahami kesulitan yang dialami UMKM akibat penghentian fitur ini. Ia berharap situasi dapat segera kembali stabil sehingga TikTok dapat mengaktifkan kembali layanan Live tanpa kendala.
Menurut Meutya, keberadaan fitur ini penting bagi keberlangsungan usaha kecil dan menengah yang kini semakin bergantung pada ekosistem digital.
Selama masa penonaktifan fitur Live, banyak pelaku UMKM maupun affiliator merasakan dampak langsung terhadap omzet mereka.
Laporan dari Industri Kontan mencatat, potensi kerugian yang ditanggung bisa mencapai sekitar 40 persen, terutama bagi penjual yang aktivitas utamanya bergantung pada interaksi dan transaksi melalui siaran langsung di TikTok.
Para pelaku usaha kecil menilai, hilangnya fitur ini secara tiba-tiba membuat mereka kehilangan salah satu saluran penjualan paling efektif.
Tanpa siaran Live, jangkauan konsumen menjadi lebih terbatas dan laju penjualan menurun drastis, sehingga mengganggu perputaran modal yang biasanya cukup cepat melalui platform tersebut.
Tak sedikit pengusaha mikro yang meluapkan keluhannya di media sosial, salah satunya di Instagram. Mereka mengungkapkan rasa kaget sekaligus kecewa karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Bagi sebagian besar UMKM, fitur Live bukan hanya sekadar ruang promosi, tetapi juga sarana interaksi langsung yang membangun kepercayaan pelanggan dan menjaga keberlangsungan usaha.
Kembalinya fitur Live di TikTok pun menjadi angin segar bagi para pelaku UMKM dan affiliator, yang kini dapat kembali menjalankan aktivitas penjualan secara normal.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya peran platform digital dalam mendukung perekonomian rakyat, serta betapa rapuhnya ketergantungan usaha kecil terhadap layanan daring yang sewaktu-waktu bisa berubah mengikuti situasi dan kebijakan. (Adella Haviza)
Editor : Bahana.