Di tengah era ketika aktivitas masyarakat semakin bertumpu pada ruang digital, batas antara kenyamanan dan ancaman menjadi kian tipis.
Media sosial yang awalnya diciptakan untuk berbagi dan berinteraksi kini juga menjadi lahan subur bagi penipuan, manipulasi informasi, dan serangan siber.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat lebih dari 11 ribu laporan penipuan online sepanjang semester pertama 2025, mulai dari investasi palsu hingga phishing berkedok hadiah.
Kondisi ini menunjukkan ancaman digital tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan juga pada perilaku pengguna yang seringkali mudah terperdaya dan percaya tanpa melakukan verifikasi.
Kebiasaan “klik dulu, pikir belakangan” menjadi salah satu alasan utama banyaknya korban penipuan daring, di mana satu tautan yang tampak sepele dapat berujung pada permasalahan berat seperti pencurian data pribadi, akses rekening, hingga jeratan pinjaman online ilegal.
Rendahnya literasi digital membuat banyak orang kesulitan membedakan antara konten asli atau konten manipulasi, terlebih karena pelaku penipuan kerap menggunakan akun palsu yang menyerupai tokoh publik, institusi resmi atau perusahaan ternama.
Situasi ini menuntut adanya edukasi digital yang lebih intensif, tidak hanya untuk menekan angka kejahatan siber tetapi juga untuk membentuk kebiasaan digital yang aman dan kritis.
Untuk menjawab keadaan tersebut, TikTok menghadirkan inisiatif #PikirDuaKali Live Series sebagai ruang diskusi edukatif mengenai cara mengenali dan mencegah penipuan online. Dalam sesi perdananya yang bertema “Generasi Digital, Cerdas, Kreatif, dan Aman”,
VP Head of National Digital Brand Engagement Strategy IM3, Hodo Purwoko, menjelaskan bahwa sekitar 65 persen masyarakat Indonesia terpapar upaya penipuan setiap minggu, dengan modus yang terus berkembang mulai dari SMS undian palsu hingga akun tiruan brand besar.
IM3 juga mengembangkan teknologi SATSPAM berbasis AI untuk mendeteksi dan menandai nomor mencurigakan, namun Hodo menegaskan bahwa teknologi secanggih apapun tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku pengguna.
Upaya memperkuat keamanan digital juga menjadi perhatian TikTok Indonesia. Menurut Senior Manager PR & Communications TikTok Indonesia, Edwin Lengkei, keamanan pengguna merupakan prioritas utama.
Selama semester pertama 2025, TikTok telah menghapus lebih dari 25 juta konten, termasuk 232 ribu konten penipuan, sebagian besar dihapus secara proaktif sebelum ada laporan dari pengguna.
TikTok juga menerapkan sistem pelaporan anonim untuk mendorong pengguna lebih berani melaporkan aktivitas yang mencurigakan.
Selain itu, para kreator edukasi juga mengambil peran penting dalam kampanye literasi digital ini. Lianna Nathania (@liannanathania), salah satu kreator edukasi di TikTok, memperkenalkan metode 3C :Cek, Cegah, dan Cegat, sebagai langkah sederhana dalam mencegah penipuan.
“Biasakan memeriksa informasi sebelum bertindak. Jangan mudah percaya hanya karena pesan terlihat resmi,” ujar dia di Jakarta baru-baru ini.
Cek identitas pengirim dan isi pesan, cegah dengan tidak terburu-buru mengeklik tautan atau mengirim dana, serta cegat dengan memblokir dan melaporkan akun penipu.
Menurut Lianna, edukasi yang disampaikan dengan gaya ringan dan relevan lebih mudah diterima terutama oleh pengguna muda yang menjadi target utama penipuan digital.
Edwin Lengkei, Senior Manager PR & Communications TikTok Indonesia, menegaskan bahwa keamanan pengguna adalah prioritas utama.
“TikTok tidak menoleransi segala bentuk penipuan online. Selama semester pertama 2025, kami telah menghapus lebih dari 25 juta konten, termasuk 232 ribu konten penipuan, dan sebagian besar dihapus secara proaktif sebelum dilaporkan pengguna,” jelasnya.
Ia menegaskan, fitur pelaporan di TikTok bersifat anonim agar pengguna berani melapor tanpa khawatir.
“Keamanan digital bukan hanya tanggung jawab platform, tapi hasil gotong royong seluruh pengguna,” ujarnya.
Kampanye-kampanye seperti ini diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa keamanan digital bukan hanya tanggung jawab platform, tetapi juga bergantung pada perilaku setiap pengguna dalam bermedia sosial.
Penulis: Muhtar Dinata