Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Usai Alami Error, Cloudflare Kini Dihadapkan Ancaman Blokir Terkait Judi Online

Bahana. • Jumat, 21 November 2025 | 22:30 WIB

Kantor Perusahaan Cloudflare Sumber: pinterest.com
Kantor Perusahaan Cloudflare Sumber: pinterest.com
RADAR MALIOBORO - Warganet di berbagai belahan dunia kompak mengeluhkan gangguan besar-besaran yang membuat hampir semua layanan internet, mulai dari Canva, X, hingga ChatGPT tak dapat diakses.

Prediksinya, gangguan serupa bisa ssaja kembali dirasakan masyarakat Indonesia dalam waktu yang tidak pendek.

Gangguan tersebut bermula ketika sistem jaringan Cloudflare mengalami gangguan dan menghentikan aliran data internet.

Karena sebagian besar situs dan aplikasi digital bertumpu pada layanan ini, secara singkat, dunia maya seakan “mati” hingga menjelang Rabu pagi (19/11).

Menurut keterangan resmi Cloudflare pada Rabu siang, ia menjelaskan bahwa gangguan ini bukan akibat serangan siber.

Penyebabnya adalah perubahan pada sistem penandaan perizinan yang memicu masuknya data dalam jumlah ke file yang digunakan oleh sistem manajemen kami.

Ukurannya membengkak jauh melebihi kapasistas yang bisa ditangani, hingga sistem mengalami malfungsi.

Meski pada saat ini layanan Cloudflare telah kembali beroperasi normal, masalah baru kembali muncul, khususnya bagi pengguna internet di Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) diketahui telah melayangkan peringatan tegas kepada perusahaan asal Amerika Serikat tersebut, membuka peluang munculnya hambatan lanjutan bagi ekosistem digital Tanah Air.

Isu pertama yang menjadi sorotan adalah fakta bahwa Cloudflare hingga kini belum tercatat sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di bawah regulasi Komdigi.

Situasi ini bukan hanya menimpa Cloudflare, melainkan juga sejumlah platfrom besar lainnya seperti ChatGPT, Terabox, Dropbox, dan lembaga pendidikan seperti English First dan Duolingo, hingga situs referensi populer.

Namun, khusus untuk Cloudflare, Komdigi menambahkan tudingan lain yang jauh lebih serius. Layanan Cloudflare dianggap menjadi infrastruktur yang digunakan secara masif oleh jaringan situs jugi online.

Berdasarkan temuan Komdigi, dari sampel 10 ribu situs perjudian digital, sekitar 76 persen memanfaatkan layanan Cloudflare untuk perlindungan IP hingga pergantian domain untuk menghindari pemblokiran.

Komdigi menegaskan bahwa temuan tentang situs judi online tersebut telah disampaikan langsung melalui surat resmi kepada Cloudflare pada Senin (17/11). Seperti halnya 24 layanan lainnya yang belum mendaftar.

Cloudflare diberi waktu dua minggu untuk menuntaskan proses pendaftaran dengan peluang diskusi langsung dengan Komdigi mengenai isu-isu teknis maupun kepatuhan.

Jika pada akhirnya Cloudflare tidak masuk dalam daftar PSE, konsekuensinya sangat besar, berbagai situs dan aplikasi yang mengandalkan layanan tersebut harus mencari penyedia jaringan lain.

Proses migrasi itu tidak dapat dilakukan dalam semalam, sehingga sangat mungkin pengguna internet di Indonesia akan kembali mengalami gangguan selama transisi berlangsung dan jika hal itu terjadi, maka pengguna internet di Indonesia akan mengalami kerugian besar.

Penulis: Alif Rizki Wahyu N K

Editor : Bahana.
#Cloudflare