RADAR MALIOBORO - Di balik layar ponsel, banyak video berdurasi tidak lebih dari 60 detik yang memperlihatkan peniruan gerakan disabilitas atau kedutan saraf (tics) dengan mudah mendulang jutaan penayangan hanya dalam hitungan jam. Sementara itu, konten edukasi yang diproduksi dengan riset mendalam sering kali terlewat dari perhatian masyarakat.
Fenomena ini bukan sebuah kebetulan, melainkan hasil dari kerja kecerdasan buatan yang menggerakkan linimasa media sosial. Lantas, mengapa sistem rekomendasi platform atau fitur For Your Page (FYP) seolah memanjakan konten-konten nirempati seperti ini?
Hukum Algoritma
Sistem algoritma merupakan motor penggerak di balik linimasa media sosial modern, termasuk TikTok. Sistem ini memang tidak dirancang untuk menilai apakah sebuah konten itu etis, bermoral, atau edukatif. Fokus utamanya adalah memetakan preferensi pengguna berdasarkan riwayat interaksi mereka.
Baca Juga: Intip Perjalanan 3 Ganda Putri Indonesia yang Lolos ke 8 Besar Indonesia Open 2026
Prinsip kerja dari algoritma FYP adalah menahan pengguna selama mungkin di dalam aplikasi. Ketika Anda menyukai sebuah tayangan, sistem otomatis akan menyajikan kurasi konten lain yang serupa agar Anda tidak beranjak dari duduk.
Mekanisme inilah yang diadopsi oleh TikTok untuk memastikan seluruh konten yang lewat di beranda Anda selalu terasa memikat, relevan, dan sesuai dengan preferensi pribadi. Sistem ini juga berlaku bagi akun-akun yang kerap Anda beri tanda suka; secara otomatis, algoritma TikTok akan menampilkan unggahan terbaru dari akun-akun favorit tersebut di halaman utama Anda.
Bukan hanya itu, ketika seorang pengguna berhenti sejenak untuk menonton satu video parodi disabilitas—bahkan hanya karena merasa geram, algoritma langsung mencatat aktivitas tersebut sebagai bentuk ketertarikan. Dalam sekejap, linimasa pengguna akan dipenuhi oleh konten-konten serupa.
Baca Juga: Dadan Hindayana Ditangkap Kejagung, Korupsi Program Makan Bergizi Gratis MBG Prabowo Diusut
Sistem rekomendasi yang buta nilai ini pada akhirnya dibaca oleh sebagian konten kreator sebagai peluang instan untuk mendongkrak popularitas. Ketika seorang influencer mengunggah konten yang menirukan gerakan disabilitas atau tics, mereka sebenarnya sedang memanfaatkan bias algoritma yang berorientasi pada keuntungan sepihak.
Banyak konten kreator yang menyadari bahwa video pemancing kontroversi atau kemarahan publik akan memanen interaksi yang luar biasa tinggi. Mereka sengaja memanfaatkan parodi gerakan disabilitas agar kolom komentar dibanjiri oleh kritik, hujatan, dan edukasi dari netizen.
Di mata sistem rekomendasi, riuhnya perdebatan ini justru dinilai sebagai tanda bahwa konten tersebut sangat menarik dan interaktif. Akibatnya, sistem akan terus mendorong video tersebut ke halaman FYP pengguna yang lebih luas.
Baca Juga: God Of War Laufey Akan Segera Release, ini dia Reveal Combat Gameplaynya!
Mekanisme algoritma ini menunjukkan bahwa kemarahan digital justru menjadi amunisi yang menghidupkan konten negatif. Menghujat di kolom komentar atau membagikan ulang video tersebut dengan teks kecaman secara tidak sengaja justru ikut menaikkan popularitas konten di mata algoritma.
Selama engagement masih diagungkan di atas etika, konten-konten kontroversial akan terus diproduksi. Namun, roda digital ini hanya akan terus berputar jika netizen memberikan atensinya.
Langkah yang dapat dilakukan untuk membunuh konten parodi disabilitas adalah dengan melewati video tanpa menontonnya hingga selesai, tekan opsi “Not Interested”, dan layangkan laporan (report) pelanggaran. Hanya dengan cara itulah, sistem rekomendasi dipaksa belajar bahwa ruang digital kita tidak menyediakan tempat bagi lelucon yang merendahkan martabat manusia. ().
Editor : Iwa Ikhwanudin