RADAR MALIOBORO - Perusahaan robotik asal China, TARS, memperkenalkan tangan robot bernama DexHand yang diklaim mampu meniru struktur dan gerakan tangan manusia secara lebih presisi.
Prototipe ini dipamerkan dalam konferensi robotika internasional ICRA 2026 di Wina, Austria, awal Juni lalu.
Dalam demonstrasinya, DexHand menunjukkan kemampuan melakukan gerakan bahasa isyarat secara real-time serta interaksi kontrol cermin (mirror-control) untuk memperlihatkan tingkat kelincahan dan responsivitasnya.
TARS mengklaim DexHand dibangun dengan arsitektur 21 derajat kebebasan gerak (21 degree of freedom) yang meniru anatomi tangan manusia, termasuk struktur sendi ibu jari yang kompleks.
Hal yang selama ini menjadi tantangan besar dalam dunia robotika.
"DexHand adalah antarmuka optimal antara kecerdasan manusia dan aksi robotik," kata co-founder sekaligus chief scientist TARS, Ding Wenchao, dalam pernyataan resmi perusahaan.
Salah satu fitur yang ditonjolkan TARS adalah kamera yang dipasang di ujung jari robot, dipadukan dengan model fondasi AI milik perusahaan bernama AWE 3.0.
Baca Juga: Lumpia Samijaya, Kuliner Legendaris Malioboro yang Selalu Diburu Wisatawan
Kombinasi ini diklaim membantu robot dalam membaca karakteristik fisik benda seperti tekstur, tingkat kekerasan, hingga risiko benda tergelincir saat dipegang.
Beberapa kemampuan yang penting agar robot bisa menangani objek dengan lebih hati-hati, mulai dari benda rapuh hingga peralatan kerja.
TARS juga mengembangkan platform bernama SenseHub, yang berfungsi merekam dan memetakan data gerakan manusia untuk melatih sistem robotiknya.
Pendekatan ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara kemampuan robot di simulasi dengan performanya di dunia nyata.
DexHand bukan satu-satunya pemain dalam perlombaan tangan robot dexterous di China.
Baca Juga: Lisa Mariana Dituding Lakukan Penipuan, Begini Awal Mula hingga Klarifikasi yang Disampaikan
Perusahaan lain seperti LinkerBot bahkan disebut menguasai lebih dari 80 persen pangsa pasar global untuk tangan robot dengan derajat kebebasan gerak tinggi.
Mengambil harga yang ditekan drastis hingga di bawah 1.000 dolar AS per unit, jauh lebih murah dibanding produk impor kelas atas yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu dolar.
Persaingan ketat inilah yang mendorong berbagai perusahaan robotika China berlomba menghadirkan inovasi tangan robot dengan biaya produksi yang terus ditekan.
Meski berbagai perusahaan menunjukkan kemajuan pesat dalam desain tangan robot, laporan riset independen menyebut robot humanoid secara umum masih kesulitan menyelesaikan sebagian besar tugas rumah tangga sehari-hari secara mandiri.
Menandakan bahwa jarak antara demonstrasi panggung dan penerapan nyata di kehidupan sehari-hari masih cukup jauh.
Editor : Meitika Candra Lantiva