RADAR MALIOBORO - Robot yang belakangan ini ramai di media sosial, Joko Prabuwesi.
Robot humanoid yang videonya berturut-turut viral karena tingkah lakunya yang dianggap netizen “berkarakter” untuk ukuran sebuah robot.
Semua berawal dari video hari pertama Joko ngantor.
Rekaman CCTV memperlihatkan dia melakukan gerakan tak biasa.
Joko melakukan tendangan tinggi hingga pose mirip beladiri yang membuat suasana kantor panik sejenak sebelum akhirnya dapat ditangani.
Baca Juga: Workshop di Yogyakarta Tekankan Media Lokal Harus Kredibel di Era Digital
Video ini pun meledak, tembus 123 juta lebih tayangan dan 12 juta likes di TikTok.
Sebelum video itu ternyata ada video Joko yang sedang joget bareng karyawan, yang berujung "ngamuk" tak lama setelahnya.
Warganet pun ramai-ramai berkomentar seolah Joko benar-benar punya mood harian layaknya rekan kerja baru yang belum genap sebulan sudah bikin geger satu kantor.
Joko Prabuwesi sebenarnya bukan robot uji coba internal perusahaan atau institusi tertentu.
Dari situs resminya jokoprabuwesi.id robot ini justru disewakan untuk berbagai acara.
Mulai dari acara korporat, pameran, mall, peluncuran produk, hingga festival.
Semua video viralnya pun diunggah dari akun resmi miliknya sendiri, bukan rekaman insiden yang kebetulan tersebar dari pihak luar.
Jadi video "insiden" Joko kemungkinan besar adalah strategi konten yang memang dirancang untuk viral, bukan kejadian tak terduga.
Dan strategi itu berhasil, merubah Joko dari sekadar robot sewaan untuk acara menjadi salah satu selebriti dadakan di linimasa.
Baca Juga: UI Klarifikasi Unggahan BEM Psikologi soal LGBT, Tegaskan Bukan Sikap Resmi Kampus
Lengkap dengan penggemar yang menantikan ulahnya berikutnya, termasuk kabarnya yang mulai jalan-jalan ke mall dan mampir jajan di pedagang kaki lima.
Fenomena ini sekaligus jadi contoh menarik bagaimana robot humanoid kini tak lagi hanya dipakai sebagai teknologi fungsional, tetapi juga sebagai alat pemasaran yang memanfaatkan rasa penasaran publik terhadap AI dan robotika.