RADAR MALIOBORO - Setiap kali mengetik pertanyaan ke ChatGPT atau AI sejenis, ada air yang "menguap" di suatu tempat, jauh dari layar HP-mu.
Kenapa AI butuh air, padahal cuma software?
AI memang hanya kode, tapi ia berjalan di atas server fisik yang panas luar biasa saat memproses jutaan perhitungan sekaligus.
Untuk mendinginkannya, kebanyakan pusat data pakai sistem pendingin berbasis air.
Air menyerap panas lalu menguap lewat menara pendingin.
Baca Juga: DPRD Kota Jogja Minta Pemkot Tepat Sasaran dalam Penyaluran Bansos
Selain itu, listrik yang menyalakan server itu sendiri kebanyakan dibangkitkan lewat pembangkit yang juga butuh air untuk memutar turbin.
Jadi ada dua jalur konsumsi air, langsung dari pendinginan di lokasi dan tidak langsung yaitu lewat pembangkit listrik.
Angka yang sering muncul di linimasa datang dari riset Shaolei Ren dan timnya di University of California, Riverside, yang jadi rujukan utama media di seluruh dunia sejak 2023.
Yaitu kira-kira satu botol air mineral ukuran sedang, buat setiap 5 sampai 50 kali bertanya ke chatbot AI.
Baca Juga: Potret Suka Duka Kurir Lewat Ilustrasi Jenaka, Komik "Pengantar Kebahagiaan" Resmi Diluncurkan
Namun CEO OpenAI, Sam Altman, pernah membagikan angka yang jauh lebih kecil.
Yaitu hanya 0,3 mililiter air per query, setara 1/15 sendok teh, lebih kecil dari setetes air mata.
Bedanya, angka dari Altman hanya menghitung air yang dipakai langsung di lokasi server.
Tidak termasuk air untuk membangkitkan listriknya.
Editor : Meitika Candra Lantiva