AI Mulai Jadi Ancaman Baru Ekonomi Global, Investasi Infrastruktur Tembus Triliunan Dolar

Perawati • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 18:20 WIB
Pesatnya perkembangan AI menciptakan risiko baru terhadap stabilitas keuangan. (Pinterest)
Pesatnya perkembangan AI menciptakan risiko baru terhadap stabilitas keuangan. (Pinterest)

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang begitu pesat ternyata tidak hanya membawa perubahan besar di sektor teknologi. Di balik peluang peningkatan produktivitas, ekspansi AI juga mulai memunculkan risiko baru terhadap stabilitas perekonomian dan keuangan global.

Kepala Bank for International Settlements (BIS), Pablo Hernandez de Cos, mengingatkan bahwa besarnya belanja untuk membangun infrastruktur AI kini telah mencapai skala yang berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi dunia.

Peringatan tersebut disampaikan Hernandez de Cos dalam konferensi yang digelar oleh Bank Sentral India. Menurutnya, masifnya adopsi AI membuat perekonomian global semakin kompleks untuk dibaca dan diinterpretasikan oleh bank sentral.

Pasalnya, perkembangan AI secara bersamaan memengaruhi sisi permintaan, penawaran, hingga dinamika di pasar keuangan.

"Janji AI itu nyata," kata Hernandez de Cos.

Baca Juga: Bukan Sekadar Drama Medis, The Trauma Code: Heroes on Call Bikin Penonton Belajar Istilah Kedokteran

Meski melihat potensi besar dari teknologi tersebut, dia mengingatkan bahwa dampak AI dalam jangka panjang akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan yang diterapkan, investasi terhadap keterampilan dan infrastruktur, serta sejauh mana manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan secara luas.

BIS memperkirakan lima perusahaan teknologi terbesar di dunia bakal menggelontorkan investasi lebih dari USD 1 triliun untuk pengembangan AI sepanjang 2025 hingga 2026.

Sementara itu, investasi industri AI secara global yang saat ini berada di kisaran USD 500 miliar diproyeksikan melonjak hingga USD 4 triliun pada 2030.

Namun, derasnya investasi tersebut juga membawa perhatian terhadap sumber pembiayaannya. Hernandez de Cos menyebut ledakan pendanaan AI semakin banyak ditopang utang dan kredit swasta, bukan semata-mata dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan.

Menurut dia, pola pembiayaan tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Terlebih, sebagian besar pendanaan dinilai masih bersifat "tidak transparan dan saling terkait".

AI Mulai Mengubah Perdagangan Dunia

Dampak perkembangan AI tidak berhenti pada sektor teknologi dan keuangan. Gelombang investasi AI juga mulai mengubah pola perdagangan internasional.

Sejumlah negara yang memiliki posisi penting dalam rantai pasokan teknologi, seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Taiwan, telah merasakan manfaat dari meningkatnya permintaan terhadap teknologi AI.

Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan harga ekspor sejumlah produk strategis, terutama chip dan berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk pengembangan infrastruktur AI.

Di tengah berbagai risiko tersebut, Hernandez de Cos juga menyoroti sisi positif dari perkembangan AI, terutama terhadap produktivitas tenaga kerja.

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Benarkah Mencabut Uban Bisa Memicu Uban Baru?

Dia menunjukkan bukti bahwa AI generatif berpotensi meningkatkan produktivitas secara signifikan. Sejumlah studi bahkan mencatat peningkatan produktivitas antara 10 persen hingga 65 persen pada sektor-sektor tertentu.

Dampak paling menonjol terlihat pada bidang pemrograman atau coding, layanan konsultasi, serta pekerjaan yang berkaitan dengan penulisan profesional.

Meski demikian, besarnya potensi ekonomi AI sekaligus tingginya kebutuhan investasi membuat perkembangan teknologi ini menjadi tantangan baru bagi pembuat kebijakan. Bank sentral dan pemerintah dituntut mampu mengantisipasi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, pasar keuangan, hingga stabilitas sistem keuangan global.

Editor : Bahana.
Ekonomi Global Investasi AI BIS kecerdasan buatan ai