RADAR MALIOBORO - Hubungan romantis dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memunculkan pertanyaan baru dalam kehidupan pasangan.
Sebuah survei terhadap orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 50,5 persen responden menilai hubungan romantis atau seksual antara pasangannya dengan AI dapat dianggap sebagai perselingkuhan.
Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan AI companion tidak lagi hanya dipandang sebagai teknologi untuk menemani pengguna berbincang, tetapi juga mulai dikaitkan dengan batas kesetiaan dalam sebuah hubungan.
Survei tersebut dilakukan pada 26-27 Agustus 2026 melalui SurveyMonkey Audience. Penyelenggara awalnya mengumpulkan 2.150 jawaban dari warga AS berusia 18 tahun ke atas. Setelah proses pemeriksaan kualitas, sebanyak 441 respons dikeluarkan sehingga analisis akhir menggunakan 1.709 respons.
Peneliti menyebut sampel telah diseimbangkan berdasarkan patokan usia dan gender dari data sensus AS, sementara wilayah tempat tinggal dan pendapatan rumah tangga tidak menjadi dasar penyeimbangan.
Baca Juga: Lirik dan Makna Lagu ‘You’re On Your Own, Kid’ Taylor Swift, Kisah Perjuangan hingga Menemukan Diri
Karena itu, hasil survei perlu dibaca sebagai gambaran sikap responden, bukan sebagai angka pasti yang mewakili seluruh warga Amerika.
Menariknya, responden yang tidak menganggap hubungan dengan AI sebagai perselingkuhan pun tidak seluruhnya bersikap biasa saja. Sebanyak 21,2 persen mengatakan mereka mungkin tidak menyebutnya sebagai selingkuh, tetapi tetap merasa tidak nyaman apabila pasangan melakukan hubungan romantis dengan AI.
Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, terdapat 71,7 persen responden yang setidaknya memiliki keberatan terhadap hubungan romantis atau seksual pasangan dengan AI.
Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, terdapat 71,7 persen responden yang setidaknya memiliki keberatan terhadap hubungan romantis atau seksual pasangan dengan AI. Sementara itu, 28,3 persen lainnya menilai fakta bahwa AI bukan manusia yang membuat hubungan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai perselingkuhan.
Survei itu juga menemukan perbedaan pandangan berdasarkan pengalaman menggunakan AI companion. Dari responden yang sedang menggunakan aplikasi pacar AI, 80,6 persen menganggap hubungan romantis pasangan dengan AI dapat disebut selingkuh.
Angkanya turun menjadi 60,2 persen pada mereka yang pernah menggunakan tetapi sudah berhenti, dan 44 persen pada responden yang belum pernah menggunakan layanan tersebut.
Namun, data ini hanya menunjukkan adanya hubungan antara pengalaman menggunakan AI dan pandangan terhadap perselingkuhan, bukan membuktikan bahwa penggunaan AI menyebabkan seseorang memiliki pandangan tertentu.
Alasan orang AI companion juga tidak semata-mata berkaitan dengan seks atau percintaan. Dalam survei tersebut, 56,6 persen responden memilih kebutuhan untuk memiliki teman berbicara atau mengurangi rasa kesepian sebagai alasan utama menggunakan AI companion.
Hanya 10,3 persen yang menyebut kasih sayang, romantisme, atau seks sebagai alasan utama. Temuan ini memperlihatkan AI companion dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan emosional, selain menjadi sarana hiburan atau percakapan biasa.
Baca Juga: Sadar Cinta Tak Bisa Hapus Insecurity, Ini Makna Mendalam di Balik Lagu 'The Cure' Olivia Rodrigo
Fenomena tersebut membuat batas antara teknologi, pertemanan, dan hubungan asmara menjadi semakin sulit didefinisikan. Ai companion dirancang untuk merespons percakapan secara personal dan dapat digunakan berulang kali dalam jangka panjang.
Penelitian lain mengenai hubungan manusia dengan AI juga menunjukkan bahwa sebagian pengguna yang sudah memiliki pasangan tetap merahasiakan atau hanya mengungkapkan sebagian aktivitas mereka dengan AI companion kepada pasangan.
Dengan semakin berkembangnya teknologi tersebut, persoalan mengenai apa yang dianggap sebagai perselingkuhan kemungkinan akan semakin bergantung pada kesepakatan dan batas yang dibuat oleh masing-masing pasangan.
Editor : Bahana.