Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Waspada! Cuaca Panas di Tengah Musim Hujan Bisa Naikkan Kasus Demam Berdarah

Marsa Andiny Putri • Sabtu, 23 Maret 2024 | 22:04 WIB
Ilustrasi penyakit demam berdarah.
Ilustrasi penyakit demam berdarah.

RADAR MALIOBORO - Cuaca panas akhir-akhir ini melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Meskipun demikian, cuaca hujan bukan berarti sudah usai.

Seperti dikutip BMKG, misalnya, beberapa kota seperti Jakarta, Samarinda, Medan, dan Palembang pada Jumat (22/03) diguyur hujan, namun cuacanya juga panas.

Cuaca panas di tengah musim hujan, yang belum sepenuhnya berakhir menarik perhatian Kementerian Kesehatan, karena dapat meningkatkan kasus penyakit demam berdarah (DBD).

“Kalau saya bilang akhir-akhir ini hujan deras, kemudian tiga hari ini panas. Ini yang menyebabkan genangan akibat hujan itu berpotensi menimbulkan banyak sarang nyamuk untuk berkembang biak," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Kamis (21/3).

Menurut Imran, genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti bisa menjadi kotor dan tidak bisa disiram air baru jika tiba-tiba cuaca panas setelah hujan tadi.

“Sebetulnya dari sisi epidemiologi, lebih aman kalau hujan terus ada karena airnya akan terganti. Kalau sekarang hujannya berbahaya untuk terkait dengue,” ujarnya.

Imran juga mengungkapkan berdasarkan data kumulatif sebaran kasus DBD Kementerian Kesehatan per 18 Maret 2024, secara total sudah mencapai 35.556 kasus.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus DBD terbanyak, yaitu 10.428 kasus, disusul Jawa Timur 3.638 kasus, Sulawesi Tenggara 2.763 kasus, Kalimantan Tengah 2.309 kasus, Kalimantan Selatan 2.068 kasus dan Lampung 1.761 kasus.

Dalam data yang sama, total kasus kematian akibat DBD sudah mencapai 290 kasus. Maka dari itu, Kemenkes menyiapkan enam langkah strategis untuk memberantas DBD.

Strategi pertama adalah fokus pada pengendalian vektor, yang dicapai melalui keterlibatan masyarakat dalam pengendalian kasus demam berdarah sebelum masa penularan. Misalnya melalui gerakan Jumantik Satu Rumah Satu dan pemeriksaan peternakan secara berkala.

Strategi kedua adalah menerbitkan sejumlah aturan seperti Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) terkait tata laksana infeksi dengue pada dewasa dan anak-anak serta remaja.

Langkah ketiga adalah mewujudkan surveilans DBD secara real-time melalui pengembangan SIARVI (Sistem Informasi Arbosirosis).

Selain itu, perlu juga dibentuk Tim Gerak Cepat dalam penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan sistem kewaspadaan dini KLB.

Langkah strategis keempat adalah pihaknya melakukan diseminasi atau pemberian informasi dan sistem kewaspadaan dini terkait KLB DBD.

Strategi kelima adalah menyusun Rancangan Peraturan Menteri (RPM) dan mengajak Pemda membuat peraturan terkait pencegahan dan penanggulangan DBD.

Strategi terakhir adalah mengembangkan teknologi Wolbachia yang sejauh ini tengah dikembangkan di lima kota seperti Semarang, Bontang, Kupang, Bandung dan Jakarta Barat.

“Memang beberapa kegiatan ini tidak bisa kita lakukan sendiri-sendiri. Kita semua harus bersama-sama mengatasi penyakit DBD,” ujar Imran. {}

Editor : Iwa Ikhwanudin
#cuaca panas #demam berdarah #musim hujan