RADAR MALIOBORO - Banyak orang tua yang masih percaya bahwa ASI (Air Susu Ibu) dapat mengobati mata bayi yang belekan. Namun faktaknya bahwa ASI tidak bisa menyembuhkan mata bayi.
Hal tersebut dapat membawa resiko yang cukup serius, beberapa penelitian pun mengatakan bahayanya mata bila ditetesi ASI.
ASI Bukan Obat Untuk Mata
Meskipun ASI kaya akan antibody khususnya immunoglobulin A (IgA) yang melindungi bayi dari infeksi, hal ini berarti ASI aman digunakan sebagai obat mata.
Mata bayi sangat sensitif, dan flora bakteri di sekitar payudara yang terkontaminasi dapat menyebabkan infeksi pada mata. ASI adalah cairan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri, yang artinya Ketika ASI masuk ke mata bayi justru resiko infeksi meningkat.
Resiko Infeksi yang Dapat Terjadi
1. Iritasi Mata
Komposisi ASI meskipun aman untuk pencernaan bayi, namun tidak sesuai jika digunakan sebagai penetes mata.
Meneteskan ASI dapat menyebabkan iritasi pada mata bayi yang masih sangat sensitif, hal ini dapat membuat bayi tidak nyaman dan memperburuk kondisi mata yang sudah meradang.
2. Konjugtivitis Bakteri
Meneteskan ASI pada mata bayi dapat memperparah infeksi bakteri, terutama pada ASI atau di sekitar payudara ibu.
Konjugtivis bakteri apat menyebabkan mata bayi menjadi merah, berair dan menghasilkan cairan kental berwarna kuning atau biasa disebut nanah.
3. Resiko Infeksi Sekunder
Meneteskan ASI yang tidak steril pada mata bayi dapat membuka peluang masuknya bakteri lain, yang dapat memperparah infeksi mata dan dapat memicu infeksi baru.
Peneliatan melakukan obsevasi dan menguji efek ASI terhadap mata bayi yang belekan. Hasilnya mata bayi yang belekan dan tetesan ASI hanya dapat menimbulkan bakteri baru dalam mata.
ASI memang memiliki manfaat luar biasa dalam memberi nutrisi dan menlindungi bayi dari berbagai penyakit, namun tidak untuk meneteskan ASI ke mata bayi.
Hal ini bukanlah cara yang tepat untuk mengatasi masalah pada bayi, justru menyebabkan infeksi dan komplikasi serius.
Jika bayi bunda mengalami masalah pada mata, segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang aman dan efektif.
(Windu Fitri Yansi; Berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin