RADAR MALIOBORO - Insomnia bukanlah penyakit, tetapi merupakan gangguan tidur. Insomnia ditandai dengan kesulitan untuk tertidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi dan tidak bisa kembali tidur. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup karena menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, dan masalah kesehatan lainnya jika berlangsung lama.
Insomnia bisa menjadi gejala dari kondisi medis atau psikologis lainnya, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau penyakit kronis, tetapi juga bisa terjadi secara independen karena faktor-faktor seperti stres, pola tidur yang tidak teratur, atau kebiasaan buruk lainnya.
Biasanya, insomnia rentan terjadi pada Remaja atau Dewasa umur 16-30 tahun ke atas. Hal utama di picu dari penggunaan teknologi secara berlebihan dan juga kebiasaan tidur yang tidak teratur.
Remaja rentan mengalami insomnia karena sejumlah faktor yang terkait dengan perubahan fisik, psikologis, dan gaya hidup mereka. Berikut beberapa alasan utama:
1. Perubahan biologis: Pada masa pubertas, ritme sirkadian (jam biologis tubuh) alami remaja mengalami pergeseran. Mereka cenderung merasa mengantuk lebih lambat di malam hari dan terjaga lebih lama, tetapi tetap harus bangun pagi untuk sekolah. Pergeseran ini dikenal sebagai sleep phase delay.
2. Stres dan tekanan emosional: Remaja seringkali menghadapi tekanan akademis, sosial, dan emosional, seperti kecemasan tentang sekolah, hubungan pertemanan, atau masalah keluarga. Hal ini bisa memicu pikiran berlebihan yang membuat sulit tidur.
3. Penggunaan teknologi: Paparan cahaya biru dari perangkat elektronik seperti ponsel, komputer, dan televisi dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur. Penggunaan teknologi sebelum tidur sering memperpanjang waktu terjaga.
4. Gaya hidup tidak teratur: Kebiasaan tidur yang tidak teratur, seperti begadang di akhir pekan dan kurang tidur di hari sekolah, dapat mengganggu ritme tidur dan membuat remaja lebih sulit tidur pada waktu yang konsisten.
5. Gangguan suasana hati: Masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, atau gangguan suasana hati lainnya juga sering dikaitkan dengan insomnia pada remaja.
Dengan kombinasi faktor-faktor ini, remaja lebih rentan mengalami gangguan tidur seperti insomnia, terutama jika kebiasaan tidur yang sehat tidak diperhatikan.
(Dia Daiyanti)
Sumber: berbagai sumber