Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Ternyata, Menurut Penelitian, Trauma Masa Kecil dapat Mengganggu Perilaku di Saat Dewasa

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 17 November 2024 | 11:34 WIB
(Ilustrasi trauma masa kecil, pinterest)
(Ilustrasi trauma masa kecil, pinterest)

RADAR MALIOBORO - Sulit untuk jujur atau tidak mudah mengungkapkan keinginan merupakan salah satu tanda adanya trauma masa kecil.

Kegiatan yang dilakukan secara berulang disebut rutinitas dan rutinitas yang dipupuk sejak lama akan menjadi sebuah kebiasaan. Perilaku seseorang tidak terbentuk begitu saja ketika mereka dewasa, melainkan telah dipupuk sejak masa kanak-kanak.

Saat kecil konsekuensi dari kesalahan adalah akan menerima hukuman, maka setiap anak akan tumbuh dengan rasa perfeksionis, dimana dirinya merasa melakukan sebuah kesalahan adalah suatu larangan. Lantas apakah hal ini bagus?

Perfeksionis adalah karakter yang dimiliki seseorang, dimana dirinya sangat mengusahakan untuk mendapatkan sebuah hasil yang bagus atas pekerjaannya dan cenderung merasa tidak puas. Dalam dunia medis, karakter seperti ini akan membuat seseorang rentan stress, cemas, depresi dan bisa menimbulkan kesehatan mental lainnya.

Berangkat dari penjelasan tentang perfeksionis, tanpa sadar orang tua yang sering memarahi anaknya karena melakukan kesalahan padahal di beberapa kasus kesalahan mereka tidaklah fatal atau bisa dimaklumi, seperti mereka hanya menumpahkan susu ke lantai. Respons ini akan tertanam di otak anak dan membuat mereka menjadi takut melakukan kesalahan, sehingga lahirlah karakter perfeksionis.

Kenyataannya selama hidup berjalan mustahil tidak pernah melakukan kesalahan, tentunya kesalahan itu wajar selayaknya manusia yang sudah disebutkan tidak ada yang sempurna. Namun, apabila pernyataan ini diartikan dengan terlalu sederhana akan menimbulkan kesalahan persepsi. Sebelum melakukan normalisasi kesalahan tentunya kita telah dituntun oleh peraturan-peraturan yang ada dan rasional.

Kembali pada alasan seseorang sulit jujur, kebiasaan seseorang yang tidak cukup berani untuk mengungkapkan keresahan, keputusan, dan meminta maaf atas kesalahannya bisa terjadi karena kebiasaan sejak dini:

1. Merasa Takut Dihukum
Sama seperti ketika anak akan dihukum bila melakukan kesalahan. Maka hal ini membuat mereka jadi tertutup karena memilih menyimpan semua pertanyaan, keluh kesan, ketakutan, stress dan kesenjangan seorang diri.

2. Takut Mengecewakan Orang Tua
Setiap manusia lahir dengan harapan masing-masing dan tidak terkecuali orang tua. Mereka merupakan orang yang paling dekat dengan kita, tidak jarang mereka memiliki sejumlah harapan terhadap anak-anak mereka. Ketika harapan itu ternyata tidak dapat dipenuhi, memilih untuk tidak jujur adalah jalan pintasnya.

3. Sering Diabaikan
Perkataannya sering tidak didengar atau ketika dia mencoba bercerita tentang keluh-kesahnya, justru dianggap bukan masalah daripada memvalidasi perasaan tersebut. Hal ini akan membuat seseorang tidak menerima perasaannya sendiri dan cenderung mengabaikan.

4. Masalah Emosional
Masalah emosional tersebut misalnya depresi atau dibully. Mereka yang terlalu banyak menerima tekanan akhirnya akan mengalami masalah emosional yang mendorong dirinya lebih tertutup.

Seseorang yang memiliki trauma masa kecil dapat mengganggu hubungan dengan orang tua dan hubungan dengan orang.

1. Anak cenderung enggan lebih terbuka dengan orang tuanya karena sikap yang dilakukan orang tua membuat mereka tidak nyaman.

2. Trauma masa kecil yang disebabkan oleh pengabaian akan membuat seseorang cenderung membatasi aktifitas pasangan mereka karena takut ditinggalkan. Hal ini juga dapat terjadi dalam hubungan pertemanan.

3. Seseorang yang semasa kecilnya sering mendapatkan kritik atau menyaksikan orang lain dikritik secara alami akan belajar bahwa ketidaksempurnaan, kesalahan, dan keanehan tidak dapat ditoleransi. Kemudian menerapkan hal tersebut di dalam hubungan sosial.

4. Sering diabaikan dapat membuat seseorang kala dewasa cenderung enggan bergantung. Misalnya diterapkan dalam kehidupan sosial, mereka memilih untuk tidak percaya kepada teman-temannya meski telah membagi tugas sama rata. Adapun kasus yang menunjukan kebalikannya, dimana mereka justru sangat bergantung pada orang lain atau pasangan.

5. Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan tidak sehat, seperti selalu disalahkan atas situasi yang terjadi di dalam keluarga memiliki kecenderungan untuk bertahan dalam hubungan yang tidak sehat pula. Hal ini dikarenakan tumbuh dalam lingkungan tidak sehat dapat menimbulkan rasa bersalah atas situasi yang terjadi sehingga membuat mereka merasa bertanggung jawab.

6. Tumbuh sambil diabaikan, disakiti atau ditinggalkan melahirkan pribadi yang haus pengakuan. Mereka cenderung berusaha untuk mendapatkan validasi dari pasangannya tau orang sekitar bahwa mereka layak untuk dicintai.

7. Trauma masa kecil dapat terjadi karena semasa kecil pengasuhnya tidak dapat diandalkan atau mengabaikannya. Terjalin hubungan yang tidak akrab dan saling tidak percaya hingga di usia dewasa dia akan sulit untuk menjalani hubungan, sebab takut ditinggalkan.

8. Anak-anak yang tidak berdaya atas sikap tidak nyaman dari pengasuh mereka, melahirkan keinginan untuk mengubah pasangan sebagai upaya untuk menenangkan ketakutan mereka atas hubungan yang sedang dijalani.

Kita tidak dapat mentoleransi masa kecil yang tidak nyaman dan tidak menyenangkan, bahkan kita tidak boleh mentoleransi hal tersebut karena akan membuat perasaan tidak nyaman dan sedih menjadi terabaikan, padahal ‘mereka’ adalah perasaan yang harus diterima.

Mungkin nasihat yang dapat disampaikan adalah terima perasaan itu, ekspresikan sampai tuntas, dan jangan biarkan orang lain merasakan sikap yang sama.

Dalam kehidupan sosial, teman-teman atau pasangan tidak bertanggung jawab atas trauma kita. Tetapi tanggung jawab tersebut merupakan milik kita.

Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memulai pertemanan di lingkungan yang sehat atau temui psikiater bila merasa memerlukan penanganan profesional.

(Marina Juliana)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#perilaku #masa #trauma #penelitian #kecil