Radar Malioboro – Protein kini jadi primadona di dunia diet. Dari bubuk shake sampai menu tinggi daging, banyak orang percaya semakin banyak protein dikonsumsi, maka semakin sehat tubuh.
Namun, ahli gizi mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada protein justru bisa membuat kita melupakan satu elemen penting lain: serat.
“Serat bukan hanya tentang melancarkan pencernaan. Ia adalah bahan bakar bagi bakteri baik di usus, yang berperan besar dalam imunitas dan metabolisme kita,” ujar seorang pakar nutrisi dalam laporan CNN Health.
Protein memang krusial. Ia membangun otot, memperbaiki sel, dan mendukung energi tubuh. Tapi ketika jumlahnya berlebihan, apalagi bersumber dari daging olahan atau makanan tinggi lemak, manfaat tambahan yang didapat tidak sebanding dengan risiko, mulai dari kelebihan kalori hingga beban kerja ekstra pada ginjal.
Sebaliknya, serat sering kali diabaikan. Padahal, asupan serat yang cukup bisa menjaga gula darah tetap stabil, menurunkan kolesterol, hingga membuat rasa kenyang lebih lama.
Tanpa serat, diet tinggi protein bisa memicu sembelit, mengganggu mikrobioma usus, bahkan meningkatkan risiko penyakit metabolik.
Di Indonesia, tantangan keseimbangan ini sangat nyata. Pola makan tradisional yang kaya sayuran, buah, dan umbi kian tergeser oleh menu cepat saji dan tren diet protein tinggi.
Padahal, sumber protein nabati lokal seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan sudah sejak lama tersedia dan bisa dipadukan dengan sayuran segar atau biji-bijian utuh.
“Banyak orang berpikir menambah protein otomatis membuat tubuh lebih sehat. Faktanya, keseimbanganlah yang penting. Protein dan serat seharusnya jalan bersama, bukan saling dikorbankan,” jelas pakar yang dikutip CNN Health.
Yang perlu diingat adalah jangan hanya menghitung gram protein. Pastikan juga ada serat yang cukup di setiap piring. Karena tubuh yang kuat bukan hanya dibangun oleh otot, tapi juga oleh usus yang sehat.
Sumber: CNN Health
(Maulina)