Dengan begitu, sidat menawarkan paket gizi lengkap yang sangat menarik untuk dijadikan bagian dari pola makan sehat.
Tidak hanya omega-3, sidat juga kaya nutrisi lain: vitamin A, berbagai vitamin B kompleks, zat besi, fosfor, kalori, serta protein menjadikannya sumber makanan hewani yang sangat padat gizi.
DHA dalam sidat berperan penting untuk perkembangan dan fungsi otak, sementara EPA membantu menjaga kesehatan jantung dan meredakan peradangan.
Maka dari itu, bagi mereka yang aktif mahasiswa, pekerja, atau siapa pun sidat bisa jadi pilihan bijak untuk mendukung daya tahan tubuh, fungsi otak dan metabolisme.
Keunggulan sidat ini semakin menarik mengingat saat ini banyak orang menganggap salmon sebagai ikan superfood karena kandungan omega-3-nya.
Fakta bahwa sidat bisa melampaui salmon membuka peluang bagi konsumsi ikan lokal yang lebih terjangkau dan mudah diakses.
Tapi, ada aspek penting yang perlu diperhatikan: siklus hidup sidat termasuk katadromus artinya sidat lahir di laut, lalu hidup di air tawar, kemudian kembali ke laut untuk memijah.
Proses ini membuat sidat rentan terhadap penangkapan berlebihan, terutama pada fase larva (glass eel), dan gangguan habitat (muara sungai yang tercemar, rusaknya jalur migrasi).
Karena itu, kelestarian sidat dan pengelolaan yang berkelanjutan sangat penting. Sudah ada kebijakan pembatasan kuota penangkapan glass eel dan penentuan ukuran minimal ekspor sidat agar populasi tidak tergerus habis dan siklus alam tidak terganggu.
Bagi mereka yang tertarik memasukkan sidat ke dalam menu harian, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan: konsumsi sidat secara bergantian, tidak menjadikannya satu-satunya sumber protein atau lemak sehat, dan usahakan membeli dari sumber budidaya resmi agar ikut mendukung kelestarian.
Selain itu, sidat bisa diolah dengan cara sehat dipanggang, dikukus, atau direbus agar nutrisi omega-3 tetap terjaga, tidak hilang akibat panas tinggi.
Dalam konteks makanan lokal dan kesehatan, sidat menunjukkan bahwa Indonesia punya potensi besar dalam menyediakan sumber gizi tinggi melalui laut dan sungai mereka sendiri.
Kalau dipakai secara bijak, sidat bisa jadi alternatif unggulan selain ikan impor mahal, mendukung pola makan sehat, sekaligus menjaga kelestarian alam dan perikanan nasional.
Writer Naela Alfi Syahra