YOGYAKARTA – Masalah berat badan bukan sekadar soal penampilan, melainkan indikator kesehatan yang krusial. Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih SGz Dietisien MPH, memperingatkan masyarakat mengenai bahaya obesitas sentral atau yang akrab dikenal sebagai perut buncit.
Menurut Mirza, kondisi ini jauh lebih berisiko dibandingkan obesitas biasa karena berkaitan erat dengan penumpukan lemak di area organ vital.
Bukan Sekadar Berat Badan, Perhatikan Lingkar Perut
Selama ini, masyarakat umum menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengukur status gizi. Berdasarkan standar WHO, IMT 18–23 masuk kategori normal, 23–25 overweight, dan di atas 25 sudah dikategorikan obesitas.
"Namun perlu diingat bahwa IMT hanya menunjukkan jumlah lemak tubuh secara umum, bukan lokasi penumpukannya," ujar Mirza di Kampus UGM, Rabu (17/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa seseorang dikatakan mengalami obesitas sentral jika memiliki lingkar perut di atas 90 cm. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada laki-laki karena tidak adanya hormon estrogen yang berfungsi menyebarkan lemak secara merata seperti pada perempuan.
Ancaman Sindrom Metabolik dan Penyakit Tidak Menular
Obesitas sentral menjadi perhatian serius dunia medis karena merupakan pintu masuk sindrom metabolik. Penumpukan lemak di perut memicu berbagai masalah biokimia darah, di antaranya:
Lonjakan kadar gula darah.
Tekanan darah tinggi (hipertensi).
Kolesterol tidak normal.
"Kalau biokimia di dalam darah sudah bermasalah, akan muncul berbagai Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes melitus, jantung koroner, hingga risiko kematian," tegasnya.
Gaya Hidup Muda, Investasi Masa Tua
Meskipun secara alami risiko meningkat pada usia di atas 40 tahun karena faktor hormonal, saat ini obesitas sentral mulai banyak menyerang usia muda. Hal ini dipicu oleh gaya hidup tidak sehat, kurang aktivitas fisik, serta pola makan tinggi GGL (Gula, Garam, dan Lemak).
Mirza menekankan pentingnya perubahan mindset sebelum memulai program diet.
“Mindset yang harus dibangun adalah ‘ini turning point saya, saya mau berubah.’ Tanpa itu, program sebagus apa pun tidak akan berhasil,” tambahnya.
Tips Mengatasi Obesitas Sentral
Untuk masyarakat yang ingin mulai memperbaiki kondisi kesehatan, Pakar Gizi UGM ini memberikan beberapa rekomendasi:
1. Perbaiki Pola Makan: Kurangi asupan gula, garam, dan lemak, serta tingkatkan konsumsi buah dan sayur.
2. Aktivitas Fisik: Sangat efektif bagi usia muda untuk mengoreksi berat badan karena metabolisme masih maksimal.
3. Strategi Khusus Usia 40+: Karena metabolisme melambat, diperlukan strategi tambahan seperti Intermittent Fasting (IF) atau pengaturan jendela makan di bawah pengawasan profesional.
Sebagai penutup, Mirza mengingatkan bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang. "Apa yang kita investasikan ke dalam tubuh kita hari ini, itulah yang akan kita tuai sebagai penyakit atau kesehatan di masa depan," katanya.
Apakah Anda sudah mengecek lingkar perut hari ini? Yuk, mulai hidup sehat dari sekarang! (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin