RADAR MALIOBORO - Minum es teh saat makan sudah menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia. Rasanya segar, manis, dan dianggap mampu melancarkan makan. Namun di balik kenikmatannya, kebiasaan ini ternyata bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan jika dilakukan terlalu sering.
Es teh bukan hanya sekadar minuman pendamping makan. Kandungan di dalamnya dapat memengaruhi cara tubuh menyerap nutrisi dari makanan yang baru dikonsumsi.
Menghambat Penyerapan Zat Besi
Teh mengandung senyawa tanin yang dapat mengikat zat besi dari makanan, terutama zat besi non-heme yang berasal dari sayuran, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Jika es teh diminum bersamaan atau langsung setelah makan, tubuh akan kesulitan menyerap zat besi secara optimal.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Fadhli Rizal Makarim menjelaskan,
“Kandungan tanin dan senyawa lain dalam teh dapat mengganggu penyerapan zat besi, sehingga kebiasaan minum teh setelah makan sebaiknya dibatasi, terutama bagi orang yang rentan anemia.”
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko meningkatkan anemia, terutama pada remaja, perempuan, dan ibu hamil.
Memicu Gangguan Pencernaan
Es teh yang diminum saat makan juga dapat memicu gangguan lambung pada sebagian orang. Kandungan kafein dalam teh dapat merangsang produksi asam lambung, sementara suhu dingin berpotensi memperlambat kerja pencernaan.
Akibatnya, beberapa orang bisa merasakan perut kembung, nyeri ulu hati, hingga rasa tidak nyaman setelah makan, terutama jika memiliki riwayat maag atau GERD.
Menambah Asupan Gula Berlebih
Es teh manis sering mengandung gula dalam jumlah cukup tinggi. Jika dikonsumsi setiap kali makan, asupan gula harian bisa meningkat tanpa disadari. Kondisi ini dapat berdampak pada kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko gangguan metabolik, seperti diabetes, bila tidak diimbangi pola makan sehat.
Kapan Waktu Aman Minum Teh?
Para ahli gizi menyarankan memberi jeda sekitar 1–2 jam setelah makan sebelum minum teh agar penyerapan nutrisi tidak terganggu.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin