RADAR MALIOBORO - Penggunaan parfum pada beberapa titik tubuh diyakini mampu membuat aromanya bertahan lebih lama, salah satunya dengan menyemprotkannya di area leher atau tengkuk.
Letaknya yang dekat dengan titik nadi membuat wangi parfum lebih mudah menyebar sepanjang hari.
Selain itu, area leher cenderung jarang terpapar langsung oleh sinar matahari dan udara, sehingga daya tahan aroma parfum pun menjadi lebih awet.
Meski demikian, kebiasaan menyemprotkan parfum di area leher atau tengkuk setiap hari perlu diperhatikan, karena dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi kesehatan.
Melansir unggahan di platform X dari akun @ShiningScience, penggunaan parfum di area leher yang dilakukan setiap hari disebut berpotensi mengganggu sistem endokrin.
Hal ini diperkuat oleh analisis seorang peneliti dari University of California, Berkeley yang meneliti berbagai jenis parfum dan kosmetik yang umum digunakan sehari-hari.
Hasil analisis tersebut menemukan kandungan ftalat, yakni bahan kimia sintetis yang berfungsi sebagai pelembut agar plastik lebih lentur dan tahan lama, serta kerap digunakan sebagai fiksatif dalam parfum dan produk kosmetik.
Namun, ftalat diketahui sebagai zat yang dapat mengganggu sistem endokrin dalam tubuh.
Sementara itu, sistem endokrin merupakan jaringan kelenjar dan organ yang berperan dalam memproduksi hormon untuk mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti pertumbuhan, metabolisme, reproduksi, hingga respons terhadap stres.
Sistem ini bekerja dengan melepaskan hormon langsung ke dalam aliran darah guna mengendalikan aktivitas sel di seluruh tubuh.
Adapun zat ftalat yang dikenal sebagai pengganggu sistem endokrin dapat bekerja dengan cara meniru atau menghambat kerja hormon alami, sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.
Penelitian lain juga menyebutkan bahwa bahan kimia tersebut dapat mempengaruhi kinerja sinyal hormon, termasuk jalur yang berkaitan dengan fungsi kelenjar tiroid.
Selain itu, leher merupakan bagian tubuh dengan lapisan kulit yang cenderung tipis dan memiliki banyak pembuluh darah.
Kondisi ini dapat meningkatkan penyerapan bahan kimia ketika parfum disemprotkan pada area leher.
Melansir laman kesehatan, penggunaan parfum setiap hari di area leher juga dapat menimbulkan dampak lain, salah satunya berupa iritasi kulit pada sebagian orang.
“Dapat terjadi alergi, mulai dari yang warna merah hingga putih. Hal itu karena parfum terdapat kandungan alkohol yang sifatnya iritatif. Jadi, semua yang kena alkohol pasti cenderung kering. Hanya di parfum kandungannya sedikit jadi tidak terlalu iritasi. Pakai parfum boleh namun jangan langsung ke kulit,” ujar Ismiralda Oke Putranti, Dokter spesialis kesehatan kulit dan kelamin dari Universitas Jenderal Soedirman.
Penggunaan parfum secara sesekali umumnya tidak berbahaya.
Namun, paparan berulang pada area yang sama dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko tekanan hormonal yang tidak diperlukan dalam jangka panjang. (Salwa Caesy)
Editor : Meitika Candra Lantiva