Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Sering Mengalami Fase REM? Ternyata Fase Tidur REM Dapat Membantu Otak Menghadapi Stres dan Ketakutan

Magang Radar Malioboro • Rabu, 21 Januari 2026 | 20:45 WIB

 

Balita yang sedang tertidur pulas.
Balita yang sedang tertidur pulas.

RADAR MALIOBORO - Tidur REM adalah fase terdalam ketika tidur.

Fase REM (Rapid Eye Movement) sering disebut sebagai tidur bermimpi.

Ketika melalui fase ini, aktivitas otak dan jantung meningkat.

Kemudian, pernapasan akan menjadi semakin cepat dan tidak teratur.

Sementara itu, mata juga bergerak cepat ke segala arah dan terjadi ereksi pada pria.

Walau demikian, fase ini sering dianggap sebagai paradoks tidur.

Sebab, ketika otak dan sistem lainnya bekerja keras, otot-otot justru menjadi lebih rileks.

Mimpi kerap terjadi pada fase ini, di lain sisi otak bekerja keras, otot-otot mengalami kelumpuhan sementara.

Selama ini, bermimpi kerap dianggap sebagai bunga tidur atau gambaran abstrak yang muncul tiba-tiba tanpa makna yang mendalam.

Namun, ternyata terdapat sebuah studi yang menyatakan, satu fase tidur tertentu yaitu fase REM menentukan bagaimana manusia merespon situasi stres.

Semua informasi ini dikutip dari sebuah studi bertajuk "Baseline Levels of Rapid Eye Movement Sleep May Protect Against Excessive Actiity in Fear-Related Neural Circuitry", karya dari para peneliti Itamar Lerner, Shira M Lupkn, Neha Sinha, Alan Tsai, dan Mark A Gluck pada tahun 2017.

Baca Juga: Meal Prep: Strategi Makan Sehat di Tengah Kesibukan

Penelitian ini menunjukkan, orang yang menghabiskan waktu tidur dalam fase REM memiliki respon yang rendah terhadap rasa takut ketika dihadapkan dengan rasa takut keesokan harinya.

Orang yang berhasil mengalami fase ini dengan sempurna dapat membantu mencegah ketakutan atau stres pascatrauma.

Sebaliknya, kekurangan fase tidur REM dapat berakibat terhadap gangguan kesehatan yang diderita orang-orang.

Fase tidur REM dapat terjadi setelah seseorang mengalami fase tidur panjang yang berlangsung selama berjam-jam lamanya.

Oleh karena itu, seseorang yang tidur kurang dari 8-9 jam di ranjang beresiko tidak akan mendapatkan fase tidur REM ini.

Selama fase tidur REM terjadi aktivitas masif di wilayah otak yang terkait dengan motorik, visual, emosi, dan memori. Bersamaan dengan itu pula terjadi penurunan aktivitas di wilayah lain, seperti wilayah yang mampu berpikir rasional.

Oleh sebab itu, dalam aktivitas bermimpi banyak terjadi keanehan dan tidak masuk akal.

Mimpi yang diingat setelah bangun tidur faktanya hanya sebagian mimpi dari mimpi-mimpi lainnya, karena pada fase itu otak sangatlah aktif.

Oleh karena itu, dari penelitian ini kita belajar bahwa kualitas tidur harian sangat bertanggung jawab terhadap kesehatan fisik dan jiwa. (Ahmad Yinfa Cendikia)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#fase REM #kebiasaan #menghadapi stres #tidur #ketakutan