Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Marah dan Emosi Picu Hipertensi: Benarkah atau Hanya Sekadar Mitos?

Magang Radar Malioboro • Kamis, 29 Januari 2026 | 13:57 WIB
Ilustrasi Marah atau Emosi. (Pinterest)
Ilustrasi Marah atau Emosi. (Pinterest)

RADAR MALIOBORO - Jangan marah-marah nanti darah tinggi. Kalimat tersebut yang sering muncul di lingkungan masyarakat saat emosi yang meledak-ledak yang sering dikaitan dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Dimasyarakat, anggapan ini sudah umum dan diturunkan dari orang tua ke anak. Tapi apakah benar demikian? Apakah ada dasar ilmiah yang membuktikan bahwa kebiasaan marah-marah dapat secara lansung menyebabkan hipertensi? Atau jangan – jangan hanya mitos semata?

Nah, penting bagi kita untuk mecari tahu lebih lanjut fakta dibalik anggapan tersebut agar tidak terjebak dama mitos yang mungkin keliru.

Secara ilmiah ketika seseorang marah atau stres, tubuh secara otomatis akan mengaktifkan respon fight or flight dengan melepaskan hormon adrenalin.

Lonjakan hormon ini yang kemudian menyebabkan jantung bedetak lebih cepat dan pembulu darah menyempit, yang secara otomatis memicu kenaikan tekanan dara secara mendadak atau sementara.

Meskipun demikian, kemarahan sesaat biasanya tidak langsung menyebabkan hipertensi kronis atau jangka panjang.

Masalah baru akan muncul jika seseorang mengalami stres dan emosi secara terus-menerus atau repetitif, kondisi inilah yang memaksa jantung bekerja ekstra keras dalam waktu lama, yang pada akhirnya dapat merusak dinding pembuluh darah dan meningkatkan risiko hipertensi permanen serta komplikasi jantung lainnya.

Selain faktor biologis, emosi yang tidak terkendali sering kali memicu perilaku gaya hidup yang buruk sebagai bentuk pelarian.

Seseorang yang sering stres cenderung mengabaikan pola makan sehat, mengonsumsi garam berlebih, merokok, hingga kurang beristirahat, di mana faktor-faktor eksternal inilah yang sebenarnya menjadi kontributor terbesar bagi kenaikan tekanan darah yang stabil.

Oleh karena itu, mengelola emosi bukan sekadar menjaga ketenangan pikiran, melainkan sebuah langkah untuk melindungi sistem peredaran darah dari kerusakan struktural.

Jadi identitas orang pemarah pasti hipertensi digambarkan sebagai hubungan sebab-akibat yang saling memperburuk.

Bagi individu yang sudah memiliki faktor risiko atau riwayat tekanan darah tinggi, luapan emosi dan stres bertindak sebagai pemicu yang meningkatkan tekanan darah secara drastis, sehingga memperparah kondisi kesehatan mereka.

Dengan demikian, kemarahan bukanlah penyebab tunggal yang berdiri sendiri, melainkan faktor risiko krusial yang dapat memperburuk komplikasi hipertensi jika tidak dikelola dengan baik.
( Tiya Ermiyati )

Editor : Iwa Ikhwanudin
#marah #penyebab #hipertensi