RADAR MALIOBORO - Berjalan kaki sering dianggap aktivitas sepele.
Padahal, di balik langkah-langkah sederhana itu, tersimpan efek besar bagi suasana hati.
Banyak orang mengaku merasa lebih ringan, tenang, bahkan lebih optimistis setelah berjalan kaki, terutama di ruang terbuka.
Perasaan itu ternyata bukan sugesti belaka, tetapi juga terdapat penjelasan ilmiahnya.
Saat berjalan kaki, tubuh melepaskan endorfin, hormon yang dikenal sebagai “pemicu rasa bahagia”.
Endorfin membantu menurunkan stres dan memberi sensasi nyaman secara alami.
Selain itu, aktivitas fisik ringan seperti berjalan juga meningkatkan aliran darah ke otak, membuat pikiran terasa lebih segar dan fokus.
Tidak heran jika ide-ide sering muncul justru saat seseorang sedang melangkah santai, bukan ketika duduk lama di depan layar.
Namun, bukan hanya gerakan tubuh yang berperan. Lingkungan tempat berjalan kaki juga punya pengaruh besar terhadap mood.
Jalan kaki di area hijau juga terbukti memberi efek psikologis yang lebih kuat dibanding berjalan di area perkotaan yang padat.
Interaksi dengan alam membantu otak “beristirahat” dari banjir stimulus yang melelahkan, seperti suara kendaraan, papan iklan, atau notifikasi ponsel.
Sebuah penelitian dalam Journal of Affective Disorders menunjukkan bahwa berjalan kaki di alam dapat meningkatkan suasana hati dan fungsi kognitif secara signifikan, bahkan pada individu dengan gangguan depresi.
Dalam studi tersebut, peserta yang berjalan di lingkungan alami menunjukkan perbaikan mood yang lebih besar dibanding mereka yang berjalan di area urban.
Temuan ini menguatkan gagasan bahwa alam memiliki efek restoratif bagi pikiran dan emosi manusia .
Fenomena ini sering dijelaskan melalui konsep attention restoration, yaitu alam membantu memulihkan kapasitas perhatian yang terkuras oleh rutinitas dan tekanan sehari-hari.
Pemandangan hijau, suara angin, atau cahaya matahari yang menembus dedaunan memberi rangsangan lembut bagi otak, tanpa menuntut fokus berlebihan.
Akibatnya, pikiran menjadi lebih rileks dan emosi negatif perlahan mereda.
Menariknya, durasi berjalan kaki tidak harus lama untuk merasakan manfaatnya.
Jalan kaki 20-30 menit sudah cukup memberi dampak positif pada mood.
Kuncinya adalah konsistensi dan kualitas pengalaman, melangkah dengan tempo nyaman, bernapas lebih dalam, dan sesekali membiarkan pandangan menyapu sekitar tanpa tergesa-gesa.
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh tekanan, berjalan kaki bisa menjadi jeda sederhana yang bermakna.
Tanpa biaya mahal atau peralatan khusus, aktivitas ini menawarkan ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih.
Mungkin itulah sebabnya, setelah berjalan kaki, banyak orang pulang dengan langkah yang sama, tetapi hati yang terasa sedikit lebih ringan. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva