Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kematian Akibat TBC Capai 125 Ribu Setahun, Waspada Gejala Batuk Lebih dari 2 Minggu

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 8 April 2026 | 12:32 WIB
Ilustrasi Tuberkulosis (TBC). (Freepik)
Ilustrasi Tuberkulosis (TBC). (Freepik)

 RADAR MALIOBORO - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Pasalnya, penyakit ini memiliki angka kematian yang tinggi, mencapai sekitar 12-14 orang setiap jam.

Bahkan, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dalam jumlah kasus TBC, dengan estimasi mencapai 1.090.000 total kasus dan 125.000 kematian setiap tahun.

Angka yang tinggi ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), sekaligus Direktur Zero TB Yogyakarta, dr. Rina Triasih, M.Med(Paed), Ph.D., Sp.A(K), mengatakan tingginya angka kematian akibat TB ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap TBC.

Ia menegaskan bahwa TBC sama berbahayanya dengan COVID-19.

Baca Juga: Lima Pantai Tersembunyi di South West Australia Barat yang Layak Masuk dalam Daftar Perjalanan Setiap Wisatawan

“Ini sama bahayanya dengan COVID. Namun, karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” ujarnya dalam keterangan yang dikirim Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM kepada wartawan, Rabu (8/4). 

Menurutnya, tingginya kasus dan kematian pada kasus TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius untuk ditangani.

Meskipun berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030.

“Peningkatan angka kasus tersebut  juga dapat mencerminkan semakin membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi,” jelasnya. 

Baca Juga: Rupiah Anjlok Tembus Rp 17.101 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sejak Krisis Moneter 1998, Apa Dampaknya buat Warga Jogja?

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gejala TBC tidak langsung muncul setelah seseorang tertular kuman, melainkan baru berkembang dalam rentang waktu sekitar 4-12 minggu.

“Kondisi inilah yang kemudian memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat,” terangnya.

Di sisi lain, Rina juga menyoroti sejumlah tantangan dalam upaya pengendalian TBC di Indonesia.

Selain faktor geografis yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan antarwilayah, stigma di masyarakat juga masih menjadi hambatan besar.

Tidak sedikit orang yang enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis menderita TBC, apalagi stigma yang menempel ini membuat sebagian orang khawatir akan kehilangan pekerjaan.

“Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” imbuhnya. 

Baca Juga: Terus Konsisten Berikan Edukasi Berkendara Astra Motor Yogyakarta Sambangi SMKN 1 Purworejo

Untuk menjawab tantangan tersebut, Rina mengungkapkan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanggulangan TBC melalui strategi search, treat, and prevent.

Pendekatan ini mencakup penemuan kasus secara aktif (active case finding/ACF), pengobatan yang tepat dan tuntas, serta pemberian terapi pencegahan bagi kelompok berisiko.

“Upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal,” pesannya.

Rina mengapresiasi berbagai inovasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) untuk menangani kasus TBC.

Baca Juga: Kabar Gembira, Bansos PKH dan BPNT April 2026 Cair Lebih Cepat Mulai Pertengahan Bulan, Cek Nama Anda di cekbansos.kemensos.go.id Sekarang

Salah satunya melalui penerapan ACF dengan memanfaatkan rontgen portable yang telah didistribusikan ke berbagai daerah.

“Saya kira ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” ungkapnya. 

Ia juga menyoroti rencana pengembangan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang mengintegrasikan pemeriksaan TBC dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Upaya ini diharapkan dapat mempercepat deteksi dan penanganan kasus di masyarakat.

Tak lupa,Rina menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi TBC.

Baca Juga: Pasukan Iran Tembak Jatuh Jet Tempur F-15E AS, Satu Pilot Diselamatkan, WSO Hilang, AS Balas dengan Serangan B2 Spirit ke Markas IRGC di Tehran

Masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan gejala seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Selain itu, pemahaman bahwa TBC dapat disembuhkan serta bukan merupakan penyakit keturunan juga perlu terus disosialisasikan.

Hal ini guna mengurangi stigma pada masyarakat dan meningkatkan kepatuhan berobat dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Ancaman Serius #Tuberkulosis #kematian akibat tbc #waspada batuk dua minggu #gejala batuk