RADAR MALIOBORO - Sebagai masa transisi, usia remaja adalah fase anak mengalami perkembangan yang sangat cepat, mulai dari perubahan tubuh, psikologis, hingga kematangan intelektual. Sayangnya, antusiasme dan rasa penasaran yang meluap-luap pada fase ini sering membuat mereka berani mengambil tindakan berisiko tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Sikap gegabah dan minimnya kalkulasi masa depan ini sering kali berujung pada perilaku seksual berisiko yang menempatkan kesehatan reproduksi mereka dalam bahaya. Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi.
Kehamilan di usia remaja dapat memengaruhi kesehatan sang ibu maupun bayinya, serta berdampak pada aspek sosial dan ekonomi. Beberapa risiko dari kehamilan di usia yang belum matang adalah kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah, hingga perdarahan yang mengancam ibu dan bayi.
Selain fisik, persalinan pada ibu di bawah usia 20 tahun juga berisiko mengalami depresi pascakelahiran. Ketidaksiapan menjadi orang tua dan kurangnya mendapat dukungan dari lingkungan sekitar memengaruhi psikis sang ibu dan akan berdampak pada tumbuh kembang anak.
Banyaknya risiko dari berbagai aspek menegaskan bahwa kehamilan di usia dini bukan lagi sekadar masalah individu, melainkan tantangan bersama yang harus diputus hulu masalahnya. Kehamilan di usia muda dapat dicegah dengan menunjang pendidikan serta pemberian informasi yang memadai seputar kesehatan reproduksi.
Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memahami tubuh mereka sendiri, termasuk cara menjaga kesehatan dan mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. (Bunga Faizati Hudianna)
Editor : Iwa Ikhwanudin