DEMAM Berdarah Dengue (DBD) hingga kini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Guna merespons ancaman berkelanjutan ini, negara-negara anggota ASEAN kembali memperingati ASEAN Dengue Day (ADD) atau Hari Demam Berdarah ASEAN yang jatuh setiap tanggal 15 Juni.
Peringatan tahunan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus memperkuat sinergi regional dalam menekan angka kasus dan fatalitas akibat dengue. Sejarah peringatan ini berakar dari resolusi Pertemuan Menteri Kesehatan ASEAN ke-10 di Singapura pada 22 Juli 2010, yang secara resmi menetapkan 15 Juni sebagai hari peringatan regional.
Gagasan ini kemudian diperkuat dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-19 di Hanoi, Vietnam, pada 30 Oktober 2010, di mana Indonesia menjadi salah satu pelopornya. Melalui Deklarasi Jakarta melawan DBD yang disepakati oleh 11 negara, komitmen regional dalam pengendalian penyakit ini resmi diperkokoh.
Baca Juga: Sambut Malam 1 Suro, Ratusan Pendaki Ritual Mulai Padati Gunung Lawu, Jalur Pendakian Dibuka 24 Jam
Pada peringatan tahun 2026 ini, ASEAN mengusung tema “ASEAN United: Zero Dengue Deaths – A Future We Build Together by 2030”. Berdasarkan pernyataan resmi ASEAN Health Cluster 2, tema ini menegaskan visi bersama seluruh negara anggota untuk mencapai target nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.
Untuk mewujudkan target tersebut, diperlukan kolaborasi yang solid dan menyeluruh yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, hingga lapisan masyarakat paling bawah.
ASEAN Dengue Day bukan sekadar seremonial, melainkan wadah krusial untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi di antara para profesional kesehatan masyarakat serta pemangku kepentingan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Urgensi Global di Balik Peringatan Hari Kesadaran Kekerasan Terhadap Lansia Sedunia
Kampanye tahun ini mendorong penerapan pendekatan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Berbagai upaya strategis yang ditekankan oleh ASEAN meliputi, sebagai berikut.
1. Memperketat pengawasan terhadap penyebaran penyakit dan pergerakan vektor (nyamuk pembawa virus).
2. Menjamin penanganan yang sigap terhadap setiap temuan kasus baru demi mencegah lonjakan wabah.
3. Menekankan pentingnya diagnosis yang tepat, pengobatan efektif, serta manajemen klinis yang matang untuk menekan risiko kematian pasien.
4. Mendorong pemanfaatan teknologi baru demi pengelolaan dan pengendalian dengue yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Meski strategi klinis terus ditingkatkan, ASEAN menggarisbawahi bahwa kunci utama keberhasilan pengendalian DBD berada di tangan komunitas. Keterlibatan aktif masyarakat dinilai memiliki peran paling vital dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan bebas dari sarang nyamuk.
Baca Juga: Jogja Nggak Ada Matinya! Ini 8 Rekomendasi Coffee Shop Hits dan Baru yang Wajib Kamu Coba
Masyarakat diimbau untuk secara konsisten menerapkan langkah-langkah pencegahan mandiri di lingkungan rumah dan sekitar, antara lain sebagai berikut.
1. Menguras dan membersihkan tempat penampungan air secara rutin.
2. Menutup rapat semua tempat penyimpanan air agar tidak menjadi tempat bertelur nyamuk.
3. Mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
4. Menghindari gigitan nyamuk dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menggunakan perlindungan yang sesuai, seperti losion antinyamuk atau kelambu.
Melalui momentum ASEAN Dengue Day 2026, seluruh masyarakat diajak untuk bergerak bersama. Dengan memulai langkah kecil dari diri sendiri dan keluarga, masa depan ASEAN yang sehat dan bebas dari kematian akibat dengue dapat diwujudkan bersama pada tahun 2030. (Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin