RADAR MALIOBORO - Akhir-akhir ini kita sedang merasakan cuaca panas yang bukan hanya membuat gerah biasa.
Dibanding laki-laki, tubuh perempuan justru mengalami dampak yang lebih buruk saat suhu sedang naik-naiknya.
Dr Nighat Arif, dokter umum NHS Inggris yang fokus pada kesehatan perempuan menyebut gelombang panas sebagai "stress-test" bagi jantung dan pembuluh darah perempuan.
Secara biologis, ada dua alasan utama. Pertama, perempuan cenderung lebih sulit membuang panas berlebih dari tubuhnya, sekaligus punya suhu inti tubuh dan persentase lemak yang lebih tinggi.
Baca Juga: Ulala Jogja Hadirkan Konsep Social Dining Bernuansa Eropa Klasik di Kawasan Palagan
Berfungsi seperti lapisan insulasi tambahan.
Kedua, naik-turunnya hormon estrogen dan progesteron saat menstruasi, kehamilan, menyusui, hingga menopause ikut mengacaukan sistem pengatur suhu di otak.
Menambahkan, Dr Cat Pinho-Gomes peneliti dari UCL meninjau perbedaan risiko kematian akibat gelombang panas antara laki-laki dan perempuan.
Ia menyebut perempuan mungkin sedikit lebih rentan meninggal saat cuaca ekstrem, meski buktinya masih perlu diperkuat riset lanjutan.
Selama gelombang panas, beban tambahan pada jantung bisa menurunkan tekanan darah, yang jika digabung dengan hilangnya cairan dan garam akibat berkeringat, dapat memicu kelelahan akibat panas (heat exhaustion).
Jika tekanan darah turun terlalu rendah, risiko serangan jantung pun ikut naik.
Dr Arif menyarankan supaya perempuan mengenali gejala kelelahan dan sengatan panas sejak dini, memperbanyak cairan, menyiapkan kipas atau alat pendingin, berolahraga sebelum matahari terbit atau setelah terbenam, memakai tabir surya, dan mencatat siklus menstruasi.