KULON PROGO - Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo terus mencatat peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman penularan penyakit menular yang mengintai keselamatan warga lokal secara berkelanjutan.
Berdasarkan data pemantauan resmi sepanjang tahun anggaran 2026 berjalan, pihak otoritas kesehatan daerah telah menemukan puluhan kasus infeksi dari kuman penyakit berbahaya tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo Eko Budiarto memaparkan secara terbuka bahwa hingga periode Oktober ini terdapat total 64 kasus yang teridentifikasi secara medis.
Dari puluhan temuan kasus terkonfirmasi tersebut, sebanyak tujuh pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia akibat kondisi komplikasi fatal yang dialami oleh para korban.
Eko menegaskan bahwa kasus kematian yang konsisten muncul setiap tahun akibat bahaya penularan dari hewan ke manusia ini terus menjadi fokus perhatian serius pemerintah daerah.
Secara medis, penyakit menular ini bersumber utama dari paparan air kencing tikus terinfeksi yang mencemari lingkungan persawahan basah serta area sekitar pemukiman warga.
Proses masuknya kuman bakteri berbahaya ke dalam organ tubuh manusia umumnya berlangsung sangat cepat melalui celah luka terbuka pada bagian permukaan kulit luar.
Catatan tren angka kematian akibat serangan penyakit menular ini dilaporkan selalu muncul saban tahun sejak proses pendataan resmi dimulai oleh dinas pada tahun 2012 silam.
Rekor puncak kematian tertinggi masyarakat lokal tercatat pernah terjadi pada kurun waktu tahun 2023 lalu dengan jumlah korban jiwa mencapai angka 12 kasus meninggal dunia.
Angka fatalitas tersebut sebenarnya sempat menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan saat ketatnya masa pembatasan aktivitas fisik masyarakat pada era pandemi beberapa tahun lalu.
Namun seiring kembali normalnya rutinitas kegiatan luar ruangan warga, potensi paparan bakteri di area lingkungan persawahan kini kembali membayang-bayangi keselamatan kerja para petani.
Penyebab utama tingginya tingkat fatalitas pada korban infeksi ini umumnya bersumber dari lambatnya kesadaran warga dalam memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas medis terdekat.
Sebagian besar penderita yang mengabaikan kemunculan gejala awal penyakit justru baru mendatangi fasilitas layanan kesehatan ketika kondisi fisik tubuh sudah terlanjur memburuk parah.
Keterlambatan respons penanganan medis secara dini tersebut pada akhirnya memicu komplikasi berat pada organ dalam yang teramat sulit disembuhkan oleh tim dokter pengampu.
Padahal, persediaan obat penawar infeksi berupa penyaluran antibiotik khusus telah disiapkan secara lengkap dan dapat diakses secara gratis pada seluruh fasilitas kesehatan daerah.
Kelompok masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian harian di sektor pertanian tercatat menempati urutan teratas sebagai kelompok paling rentan tertular infeksi mematikan ini.
Kebiasaan turun mengolah lahan persawahan basah tanpa menggunakan perlengkapan alat pelindung diri yang memadai menjadi alasan mendasar di balik tingginya risiko paparan infeksi.
Genangan air di area persawahan menjadi media perantara yang sangat efektif bagi penyebaran kuman penyakit yang terbawa dari kencing tikus liar terinfeksi di area perladangan.
Jika menilik grafik data historis tiga tahun terakhir, tren perkembangan temuan kasus di wilayah Kabupaten Kulon Progo tercatat mengalami pergerakan pasang surut yang dinamis.
Pada tahun 2024 tercatat 31 kasus dengan 2 kematian, lalu naik menjadi 53 kasus dengan 6 kematian pada 2025, hingga menembus 64 kasus pada kurun waktu 2026.
Sebagai langkah pencegahan konkret, Dinas Kesehatan imbau para petani untuk disiplin memakai bot sepatu pelindung serta rutin menggalakkan aksi pembasmian sarang tikus di persawahan.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja