Waspada Kencing Tikus, Tujuh Warga Kulon Progo Meninggal Akibat Leptospirosis

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Selasa, 27 Oktober 2026 | 17:03 WIB
GROPYOK: Petani melakukan pembasmian sarang tikus di area persawahan. (ANOM BAGASKORO/Radar Jogja)
GROPYOK: Petani melakukan pembasmian sarang tikus di area persawahan. (ANOM BAGASKORO/Radar Jogja) 

 KULON PROGO - Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo terus mencatat peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman penularan penyakit menular yang mengintai keselamatan warga lokal secara berkelanjutan.

​Berdasarkan data pemantauan resmi sepanjang tahun anggaran 2026 berjalan, pihak otoritas kesehatan daerah telah menemukan puluhan kasus infeksi dari kuman penyakit berbahaya tersebut.

​Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo Eko Budiarto memaparkan secara terbuka bahwa hingga periode Oktober ini terdapat total 64 kasus yang teridentifikasi secara medis.

​Dari puluhan temuan kasus terkonfirmasi tersebut, sebanyak tujuh pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia akibat kondisi komplikasi fatal yang dialami oleh para korban.

​Eko menegaskan bahwa kasus kematian yang konsisten muncul setiap tahun akibat bahaya penularan dari hewan ke manusia ini terus menjadi fokus perhatian serius pemerintah daerah.

​Secara medis, penyakit menular ini bersumber utama dari paparan air kencing tikus terinfeksi yang mencemari lingkungan persawahan basah serta area sekitar pemukiman warga.

​Proses masuknya kuman bakteri berbahaya ke dalam organ tubuh manusia umumnya berlangsung sangat cepat melalui celah luka terbuka pada bagian permukaan kulit luar.

​Catatan tren angka kematian akibat serangan penyakit menular ini dilaporkan selalu muncul saban tahun sejak proses pendataan resmi dimulai oleh dinas pada tahun 2012 silam.

​Rekor puncak kematian tertinggi masyarakat lokal tercatat pernah terjadi pada kurun waktu tahun 2023 lalu dengan jumlah korban jiwa mencapai angka 12 kasus meninggal dunia.

​Angka fatalitas tersebut sebenarnya sempat menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan saat ketatnya masa pembatasan aktivitas fisik masyarakat pada era pandemi beberapa tahun lalu.

​Namun seiring kembali normalnya rutinitas kegiatan luar ruangan warga, potensi paparan bakteri di area lingkungan persawahan kini kembali membayang-bayangi keselamatan kerja para petani.

​Penyebab utama tingginya tingkat fatalitas pada korban infeksi ini umumnya bersumber dari lambatnya kesadaran warga dalam memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas medis terdekat.

​Sebagian besar penderita yang mengabaikan kemunculan gejala awal penyakit justru baru mendatangi fasilitas layanan kesehatan ketika kondisi fisik tubuh sudah terlanjur memburuk parah.

​Keterlambatan respons penanganan medis secara dini tersebut pada akhirnya memicu komplikasi berat pada organ dalam yang teramat sulit disembuhkan oleh tim dokter pengampu.

​Padahal, persediaan obat penawar infeksi berupa penyaluran antibiotik khusus telah disiapkan secara lengkap dan dapat diakses secara gratis pada seluruh fasilitas kesehatan daerah.

​Kelompok masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian harian di sektor pertanian tercatat menempati urutan teratas sebagai kelompok paling rentan tertular infeksi mematikan ini.

​Kebiasaan turun mengolah lahan persawahan basah tanpa menggunakan perlengkapan alat pelindung diri yang memadai menjadi alasan mendasar di balik tingginya risiko paparan infeksi.

​Genangan air di area persawahan menjadi media perantara yang sangat efektif bagi penyebaran kuman penyakit yang terbawa dari kencing tikus liar terinfeksi di area perladangan.

​Jika menilik grafik data historis tiga tahun terakhir, tren perkembangan temuan kasus di wilayah Kabupaten Kulon Progo tercatat mengalami pergerakan pasang surut yang dinamis.

​Pada tahun 2024 tercatat 31 kasus dengan 2 kematian, lalu naik menjadi 53 kasus dengan 6 kematian pada 2025, hingga menembus 64 kasus pada kurun waktu 2026.

​Sebagai langkah pencegahan konkret, Dinas Kesehatan imbau para petani untuk disiplin memakai bot sepatu pelindung serta rutin menggalakkan aksi pembasmian sarang  tikus di persawahan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Dinkes Kulon Progo Leptospirosis Kulon Progo Bahaya Kencing Tikus Kesehatan Petani Kasus Leptospirosis 2026