Lokasinya bukan di pusat Kota Jogja atau daerah kampus di Sleman. Tapi di wilayah Gunungkidul. Itu pun bukan di pusat Kota Wonosari. Agak ke pinggir timur, di Selang, Wonosari berbatasan dengan Karangmojo. Tapi sejak 2016 lalu kedai kopi Katamata & Roastery beroperasi hingga kini.
Apakah usaha kedai kopi itu untung, bisa bertahan hingga 10 tahun? "Enggak, rugi!" jawab pemilik Katamata & Roastery Edi Dwi Atmaja ditemui di kedai kopinya, Jumat (15/5).
Dengan enteng dia mengakui usaha kedai kopinya yang berada di pinggir jalan raya Wonosari-Karangmojo itu rugi. Karena kedai kopinya tersebut hanya dijadikan samaran usaha roastery yang dijalankannya secara bersamaan.
Roastery secara sederhana dimaknai sebagai usaha mengolah biji kopi mentah menjadi biji kopi siap seduh. Jenis kopi yang dipakai robusta. Yang cocok tumbuh di wilayah Gunungkidul.
"Biar tidak dikira saya nuyul," ungkapnya santai. Di wilayahnya masih ada stigma bekerja adalah kantoran atau membuka usaha. Jika tidak terlihat bekerja secara fisik masyarakat beranggapan mendapatkan uang dengan cara pesugihan. Edi mengisahkan rekannya yang bekerja sebagai desain grafis saat membeli kendaraan baru malah digrebek warga. "Karena tidak terlihat kerja kok dapat uang."
Hal itulah yang memutuskannya untuk mempertahankan usaha kedai kopi Katamata yang dikelola bersama isterinya. Karena meski rugi, tapi biaya operasionalnya bisa ditutup dengan usaha roastery. Dalam seminggu, dia bisa dua sampai tiga kali melakukan pengiriman biji kopi siap seduh melalui JNE. Yang dijualnya pun di-branding kopi khas Gunungkidul.
Dalam sekali pengiriman bisa mencapai 10 kilogram. Omzetnya pun mencapai rerata Rp 20 juta sebulan. Pengiriman kopi paling tinggi pascapandemi Covid-19 lalu. Pada 2021 hingga 2023. "Mayoritas masih di wilayah Jogjakarta, kemudian Jakarta dan Tangerang,' tuturnnya.
Alumnus Fakultas Biologi UGM ini mengisahkan, setelah lulus pada 2010 silam dia merantau bekerja di Bogor. Tapi karena pertimbangan keluarga pada 2015 dia pulang ke Wonosari. Awalnya menjadi guru honorer. Tapi karena pendapatan guru honorer yang tak mencukupi saat itu, hingga saat ini, Edi mulai membuka usaha angkringan. Tapi karena sejak kuliah sudah melakukan pendampingan pada petani kopi, minuman kopi di angkringannya menggunakan kopi asli dari hasil tanaman kopi di Gunungkidul. Bukan kopi sachet.
Ternyata, peminat minuman kopi di angkringannya meningkat. Setahun kemudian dia mengganti usaha angkringan dengan kedai kopi. Di saat bersamaan juga memulai usaha roastery. Dari getok tular peminatnya hingga luar Gunungkidul.
"Kebetulan kantor JNE dulu dekat, jadi kali pertama kirim sampai sekarang lewat JNE," kata pria 39 tahun ini.
Tapi apa kekhasan lainnya? Pria yang juga mengajar di Universitas Gunung Kidul dan Politeknik LPP itu menyebut, selain dengan branding kopi Gunungkidul, jika bertemu dengan tokoh nasional dia juga bisa mempromosikan kopinya dengan branding kopi Mangkunegaran. Hal itu bukan sekadar klaim. Karena kopi Gunungkidul yang dikembangkannya bersama teman-temannya tersebut awalnya memang berasal dari kebun kopi Keraton Mangkunegaran di wilayah Gunungkidul.
Semuanya berawal dari Edi yang juga penggemar sejarah ini menemukan arsip Universitas Leiden Belanda pada 1814 yang menyebut Keraton Mangkunegaran pernah mengembangkan perkebunan kopi di Gondosini, Wonogiri, Jawa Tengah yang saat itu masuk wilayah Mangkunegaran. Kemudian memperluas wilayah perkebunan kopi hingga ke Ngawen, Semin dan Ponjong yang saat ini secara administratif masuk wilayah Gunungkidul, DIY.
Baca Juga: Indomobil eMotor Jajaki Pasar Yogyakarta, Tawarkan Solusi Mobilitas Efisien dan Ramah Lingkungan
Usaha pencariannya berhasil dengan menemukan tanaman kopi liar jenis robusta di Semin dan Ponjong, Gunungkidul. Dia beserta tim dari Fakultas Pertanian UGM pun mulai mengadvokasi petani lokal di sana untuk mulai kembali menanam pohon kopi. Usahanya tak sia-sia, karena kini di kawasan Gunung Gambar sudah ditanam 3.000 pohon kopi.
Tapi apa yang membuat kopi Gunungkidul istimewa? Tanpa ragu Edi menyebut tingkat kepahitannya. Hal itu juga dipengaruhi, kopi yang dihasilkan di kawasan Gunungkidul bagian utara yang merupakan kawasan karst akan lebih banyak kandungan mineralnya. "Masalahnya makin pahit kopi scoring-nya makin rendah," katanya tersenyum getir.
Editor : Heru Pratomo